Rugi Kurs Membengkak, Perusahaan Listrik Negara (PLN) Merugi Rp18,48 Triliun

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menderita kerugian Rp18,48 triliun pada kuartal III/2018 sejakan dengan kerugian kurs mata uang asing bersih yang membengkak 677% secara tahunan.
M. Nurhadi Pratomo | 30 Oktober 2018 17:07 WIB
Petugas melakukan pemeriksaan rutin di Gardu Induk PLN Pusat Pengatur Beban (P2B) Jawa-Bali, di Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat, Kamis (15/6/2017). - Antara/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menderita kerugian Rp18,48 triliun pada kuartal III/2018 sejakan dengan kerugian kurs mata uang asing bersih yang membengkak 677% secara tahunan.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2018 yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/10/2018), Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengantongi penjualan tenaga listrik Rp194,40 triliun atau naik 6,93% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan penyambungan pelanggan naik 4,23% secara tahunan menjadi Rp5,21 triliun.

Dari situ, total pendapatan usaha perseroan setrum milik negara itu Rp200,91 triliun pada kuartal III/2018. Pencapaian itu naik 6,94% dari periode yang sama tahun lalu Rp187,88 triliun.

Di sisi lain, beban bahan bakar dan pelumas perseroan tercatat Rp101,87 triliun. Jumlah tersebut naik 19,46% dari Rp85,28 triliun pada kuartal III/2017. Selanjutnya, beban pembelian tenaga listrik juga mengalami kenaikan dari Rp53,54 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp60,61 triliun pada 30 September 2018.

Secara keseluruhan, beban usaha PLN naik 11,83% secara tahunan pada kuartal III/2018. Tercatat, terjadi kenaikan dari Rp200,31 triliun pada kuartal III/2017 menjadi menjadi Rp224,00 triliun.

PLN tercatat membukukan rugi usaha sebelum subsidi Rp23,08 triliun pada kuartal III/2018. Nilai tersebut naik dari Rp12,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laporan keuangan kuartal III/2018 PLN mencatat subsidi listrik pemerintah mencapai Rp39,77 triliun per 30 September 2018. Jumlah itu naik dari Rp36,19 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kerugian kurs mata uang asing bersih PLN meroket pada kuartal III/2018. Pasalnya, kerugian naik 677,25% dari Rp2,22 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp17,32 triliun.

Dengan demikian, PLN tercatat membukukan rugi Rp18,48 triliun. Posisi tersebut melebar dari kuartal II/2018 dengan kerugian Rp5,36 triliun.

Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, perseroan setrum milik negara itu tercatat membukukan rugi kurs Rp11,57 triliun per 30 Juni 2018 atau melonjak dari Rp222,45 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah menjelaskan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami selisih kurs unrealize. Artinya, kerugian kurs perseroan membengkak karena pinjaman dalam mata uang dolar yang belum jatuh tempo.

“[Kerugian kurs PLN] 90% bersifat unrealize karena utang tersebut belum jatuh tempo dan belum dibayar tetapi di dalam pembukuan nilainya sudah tercatat naik,” ujarnya.

Edwin mengklaim tanpa kerugian kurs tersebut seharusnya PLN mampu membukukan keuntungan. Menurutnya, laba periode berjalan yang seharusnya dikantongi perseroan mencapai Rp5 triliun pada kuartal II/2018.

Tag : PLN, bumn
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top