Para Penantang Go-Pay dan Ovo Siap 'Bakar Duit'?

Persaingan alat pembayaran digital dipastikan kian sengit. Pada saat platform pembayaran digital Go-Pay dan Ovo jorjoran menjadi yang terdepan, dalam waktu dekat bank besar menyusul terjun ke tengah pusaran pertempuran.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  17:34 WIB
Para Penantang Go-Pay dan Ovo Siap 'Bakar Duit'?
Ilustrasi pembayaran menggunakan QR Code dengan ponsel pintar - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan alat pembayaran digital dipastikan kian sengit. Pada saat platform pembayaran digital Go-Pay dan Ovo jorjoran menjadi yang terdepan, dalam waktu dekat bank besar menyusul terjun ke tengah pusaran pertempuran.

Persaingan ketat dua nama di atas bukan hal asing bagi pengguna uang elektronik dalam beberapa waktu terakhir. Keduanya seakan adu cepat menggandeng restoran kenamaan untuk menawarkan diskon dan uang kembali (cashback) kepada konsumen.

Berdasarkan pantauan Bisnis, sejumlah mal terkenal seperti Senayan City dan Plaza Senayan dipenuhi promo Go-Pay dan Ovo. Cashback hingga 20% dengan maksimal nominal tertentu menjadi senjata andalan alat pembayaran yang memanfaatkan kode QR (quick response) ini.

Tidak hanya restoran kenamaan, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Pay) juga menggandeng mitra lokal. Melalui Go-Food Festival di sejumlah tempat, perusahaan bentukan Nadem Makarim sekitar 9 tahun lalu ini memberikan promo uang kembali hingga 50%.

Top up saldo sekitar Rp50.000 di Go-Food Festival bisa bonus makan, minum kopi, kadang cemilan, karena ada promo casback setiap satu kali belanja di setiap booth,” kata Tommy, salah satu pengunjung yang ditemui di Go-Food Festival Setiabudi, Jakarta, baru-baru ini.

Tommy mengakui, adu promo dari alat pembayaran membuatnya rajin menggunakan uang elektronik. Begitu pula dengan Irma yang gemar memanfaatkan promo cashback Go-Pay dan Ovo. Menjadi agenda rutin baginya untuk mengecek promosi dari kedua merek tersebut setiap pekan.

Persaingan berbuah promosi dua merek tersebut pun membuat gaya hidup tanpa uang tunai atau sering juga disebut cashless society kian menjamur.

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) pun tidak mau ketinggalan. Semula setiap bank pelat merah memiliki strategi masing-masing terkait dengan pengembangan pembayaran uang elektronik berbasis server. Namun, setelah ditimbang, akhirnya empat bank milik pemerintah memutuskan untuk menggabungkan bisnis alat pembayaran kode QR.

“Penggabungan ini akan berdampak signifikan. Kami bisa berbagi biaya investasi yang dibutuhkan,” kata Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Achmad Baiquni.

Menurut Baiquni, investasi terbesar akan digelontorkan untuk biaya promosi. Saat ini, besaran masih dihitung oleh tim khusus yang akan mengintegrasikan uang elektronik berbasis server milik BNI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. tengah melakukan penjajakan dengan perusahaan finansial berbasis teknologi (tekfin) asing terkait dengan pengembangan alat pembayaran kode QR. Hal ini, khususnya untuk memfasilitasi wisatawan mancanegara yang trennya terus naik.

Perseroan menetapkan anggaran modal dan belanja khusus pengembangan informasi dan teknologi 2019 senilai Rp5,2 triliun. Sebanyak Rp1,5 triliun di antaranya untuk pengembangan kode QR yang membutuhkan banyak modal untuk memitigasi risiko.

PEREDARAN UANG

Mengutip data Bank Indonesia, pada November 2018 uang elektronik beredar naik 69% menjadi 152,1 juta pengguna. Angka ini sudah menyaingi jumlah kartu ATM/debit beredar di Indonesia.

Pertumbuhan uang elektronik yang beredar sangat kencang setiap tahunnya. Selama 2 tahun, yakni 2016—2017, jumlah penggunanya naik 49,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 75,8% yoy.

Nilai transaksi bahkan jauh lebih kencang pertumbuhannya. Per November 2018, secara nominal, transaksi uang elektronik mencapai Rp41,3 triliun atau naik 296,5% yoy. Apabila melihat lebih jauh ke belakang, realisasi 2018 naik lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan capaian 2014.

Frekuensi bertransaksi pun tumbuh lebih dari tiga kali lipat menjadi 2,6 miliar per November 2018. Dengan demikian, pada bulan itu, rata-rata transaksi uang elektronik sebesar Rp15.817.

Kue bisnis yang makin legit ini diikuti dengan bertumbuhnya jumlah penerbit pembayaran digital di Indonesia. BI mencatat setidaknya ada 41 uang eletronik beredar hingga kuartal ketiga III/2018. Sebanyak 30 di antaranya berbasis server dan sisanya berteknologi cip.

Bersaing dengan perusahaan teknologi berbasis finansial, seperti Go-Pay dan Ovo bukan perkara mudah. Selain faktor lebih dulu terjun pada bisnis alat pembayaran kode QR, strategi promo harga bukan hal baru bagi mereka.

Saat pertama kali memperkenalkan ojek online secara masif beberapa tahun lalu, Go-Jek menawarkan tarif sangat murah. Perusahaan ini berani memanjakan konsumen dengan biaya perjalanan sepertiga atau malah setengah dari ongkos yang biasa dipatok ojek konvensional.

Namun, jika melirik data bank sentral, tak mungkin bank diam saja melihat bisnis alat pembayaran digital. Potensinya kian membesar, bila melihat data tersebut, transaksi masih terpusat di kota-kota besar. Dengan demikian adu strategi ‘bakar uang’ sepertinya masih menjadi kunci memenangkan persaingan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uang elektronik

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top