Ketika Rita Memutuskan Memilih Bank Syariah

Tata Cake’s, yang berlokasi di salah satu sudut Kota Metro, Lampung Tengah, tidak terlalu tampak istimewa. Akan tetapi, di balik kesederhanaan desain toko yang biasa saja, terdapat omset yang mengalir deras setiap hari.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  11:10 WIB
Ketika Rita Memutuskan Memilih Bank Syariah
Rita, pemilik toko kue Tata Cake's di Kota Metro, Lampung,sedang memproduksi kue tradisional yang dijual di kiosnya. (Bisnis - Andi M. Arief)

Bisnis.com, LAMPUNG — Tata Cake’s, yang berlokasi di salah satu sudut Kota Metro, Lampung Tengah, tidak terlalu tampak istimewa. Akan tetapi, di balik kesederhanaan desain toko yang biasa saja, terdapat omset yang mengalir deras setiap hari. 

Sekitar 1.000—2.500 kue dibuat dan dijual di toko kue kecil ini saban hari. Omset yang diraup tak kurang dari Rp50 juta per bulan. Kue-kue tradisional yang diproduksi Tata Cake’s biasanya menjadi santapan para aparatur sipil negara maupun karyawan swasta yang memesan kue untuk berbagai keperluan. 

Rita, pemilik Tata Cake’s, mengaku memulai bisnis kue tradisional sebagai penyaluran hobi. Seiring dengan perkembangan usaha, kini dapur produksinya sudah dilengkapi dengan tiga kulkas besar dan dua oven bertingkat.   

Perempuan keturunan Cina tersebut bercerita pada mulanya dia dan suaminya tidak memiliki modal sepeser pun saat mulai menjalankan bisnis tersebut pada 2011. Setelah 3 tahun berjalan, Rita bercerita ingin mengembangkan usahanya dan memutuskan untuk mengajukan pembiayaan ke perbankan. 

Mulanya, ibu dari empat anak tersebut memutuskan untuk mengajukan kredit bersubsidi atau KUR di bank umum konvensional. Namun demikian, menurutnya, debitur KUR memiliki batasan plafon pinjaman maksimal senilai Rp25 juta, sedangkan biaya pengembangan bisnis melebihi plafon tersebut.  

"Jadi, saya kenal dengan marketing Mandiri Syariah [PT Bank Syariah Mandiri], makanya saya ambil di situ," ujarnya, Senin (19/2/2019). 

Rita memutuskan untuk mengajukan pembiayaan di Mandiri Syariah dengan alasan pelayanan yang baik. Alhasil, Rita merasa nyaman mengajukan pembiayaan ke perseroan walau margin yang dikenakan lebih tinggi daripada perbankan konvensional pada umumnya.  

Seperti diketahui, pemerintah telah menurunkan margin KUR dari 9% menjadi 7% per tahun pada 2017 silam. Di sisi lain, perbankan syariah menawarkan margin pembiayaan mikro di kisaran 16%—19% per tahun. 

Di sisi lain, perbankan syariah memiliki berbagai istilah yang menggunakan bahasa Arab seperti mudharabah, musyarakah, qardh, dan sebagainya. Lalu, ketika seorang debitur mengajukan pembiayaan, petugas marketing perbankan syariah harus menjelaskan berbagai akad tersebut satu persatu. 

Saat dijelaskan akad-akad pembiayaan tersebut, Rita bercerita hanya mengambil pokok pesan dari akad-akad tersebut dan memilih yang tepat bagi usahanya. 

"Pokoknya saya mengerti kewajiban saya. Harus dibayar angsurannya tanggal sekian saya harus tahu. Pokoknya garis besarnya saja yang diambil," tuturnya. 

Pada 2014, Mandiri Syariah mengeluarkan pembiayaan kepada Rita senilai Rp40 juta dengan tenor 2 tahun. Setelah berakhir pada 2016, pengajuan pembiayaan pengembangan bisnis Tata Cake's sejumlah Rp70 juta dengan tenor 2 tahun. 

Pada tahun ini, Rita berencana akan mengembangkan usahanya untuk menjual bahan kue. Berdasar perhitungannya, Rita membutuhkan modal yang cukup besar untuk merealisasikan rencananya tersebut. 

Branch Manager Mandiri Syariah Cabang Cabang Kota Metro Pipi Prianggodo mengatakan perseroan akan fokus menyalurkan pembiayaan ke segmen mikro, pendidikan, dan jasa kesehatan di wilayah Lampung pada tahun ini. Adapun, komposisi pembiayaan ke segmen mikro cukup besar atau 41% dari portofolio kredit. Dari 41% tersebut, 80% di antaranya disalurkan sebagai pembiayaan produktif. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi syariah, mandiri syariah

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top