Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Minim Risiko Volatilitas, Rupiah Bisa Bernapas Lega

Risiko volatilitas nilai tukar rupiah dipastikan lebih minim dibandingkan dengan tahun lalu, seiring dengan perubahan arah kebijakan Federal Reserve AS yang semakin lunak.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 24 Maret 2019  |  17:57 WIB
Minim Risiko Volatilitas, Rupiah Bisa Bernapas Lega
Ilustrasi - Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Risiko volatilitas nilai tukar rupiah dipastikan lebih minim dibandingkan dengan tahun lalu, seiring dengan perubahan arah kebijakan Federal Reserve AS yang semakin lunak.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menuturkan bahwa risiko utama yang selama 2018 memicu tekanan pelemahan terhadap seluruh mata uang negara berkembang setidaknya semakin jelas. "Pada tahun ini, the Fed tidak akan menaikkan suku bunga," tegas Nanang, Minggu (24/3/2019).

Alhasil, kondisi ini membuka ruang penguatan bagi rupiah. Hingga 19 Maret 2019, BI mencatat rupiah telah menguat 1,05% secara point-to-point dan 0,85% secara rata-rata. Penguatan ini didukung oleh aliran modal asing yang masuk ke dalam pasar keuangan domestik, baik di pasar saham maupun pasar surat berharga negara (SBN).

Ke depannya, BI memandang nilai tukar akan bergerak stabil sesuai dengan mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya, sejalan dengan prospek eksternal yang membaik tersebut.

Untuk memperkuat momentum ini, BI akan terus mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, serta mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar uang dan valas.

Sementara itu, Nanang mengakui adanya risiko kenaikan utang luar negeri dari negara berkembang yang meningkat sebagai konsekuensi rendahnya suku bunga dan kebijakan quantitative easing di negara maju pascakrisis 2008.

Namun, BI masih memandang utang luar negeri swasta Indonesia secara umum dalam batas yang aman. Posisinya lebih banyak terkait dengan utang korporasi antara induk dan subsidiary ataupun afiliasi.

Kendati aman, dia mengingatkan pihak swasta ke depannya tetap harus berhati-hati terkait dengan risiko mata uang dan suku bunga global.

"Oleh karena itu, korporasi perlu membiasakan melakukan lindung nilai atau hedging terhadap perkembangan risiko pasar, terutama risiko kurs dan suku bunga," kata Nanang.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah melihat risiko pelemahan rupiah pada tahun ini sudah jauh menurun dibandingkan dengan tahun lalu.

Namun, BI masih akan menyoroti risiko berbaliknya modal asing atau sudden reversal ke depannya. "Karena biasanya ini yang memicu pelemahan rupiah," ujar Piter.

Oleh sebab itu, Piter menilai keputusan BI menahan suku bunga sebagai hal yang wajar. Jika aset keuangan di dalam negeri tidak menarik, arus modal asing bisa keluar dan rupiah kembali jatuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah bank indonesia
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top