Digitalisasi, Tantangan Global yang Perlu Diadopsi Industri Asuransi

Isu digitalisasi dinilai menjadi tantangan global yang harus diadopsi industri asuransi, termasuk di Indonesia. Pengembangan layanan digital akan menjadi tugas industri asuransi umum ke depan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  04:18 WIB
Digitalisasi, Tantangan Global yang Perlu Diadopsi Industri Asuransi
Karyawan beraktivitas di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Rabu (3/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Isu digitalisasi dinilai menjadi tantangan global yang harus diadopsi industri asuransi, termasuk di Indonesia. Pengembangan layanan digital akan menjadi tugas industri asuransi umum ke depan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Statistik, Riset, Analisa dan Aktuaria Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Trinita Situmeang dalam paparan kinerja Q1/2019 industri asuransi umum, Kamis (23/5/2019) di Jakarta.

Trinita yang juga merangkap sebagai Wakil Ketua AAUI menjelaskan, isu digitalisasi telah menjadi isu global yang perlu segera diadopsi. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan tren digital telah menjadi bagian dari hidup masyarakat saat ini.

"Digitalisasi ini bisa berdampak pada permintaan asuransi dengan cara digital. Sekarang ada mobile workforce yang akan berpengaruh pada asuransi," ujar Trinita pada Kamis (23/5/2019).

Dia menjelaskan, digitalisasi dapat berupa penyediaan layanan untuk nasabah melalui platform digital. Bahkan, perusahaan asuransi dapat mengembangkan layanan asuransi yang sepenuhnya dilakukan secara digital, mulai dari pembelian polis, pembayaran premi, hingga proses klaim.

Hal tersebut, menurut Trinita, telah dilakukan banyak perusahaan asuransi dan perlu terus dikembangkan. Hal tersebut dinilai penting untuk terus mendorong kinerja industri asuransi umum.

Berdasarkan data AAUI, premi asuransi umum pada Q1/2019 mencapai Rp19,76 triliun atau tumbuh 18,96 persen dibandingkan dengan Q1/2018 (quartal to quartal/q-to-q) senilai Rp16,61 triliun. Capaian awal tahun ini meningkat dibandingkan pertumbuhan Q1/2018 sebesar 10,07 persen (q-to-q).

Pertumbuhan premi tersebut didorong oleh 10 lini bisnis yang mencatatkan kinerja positif dari total 14 lini bisnis. Lini asuransi kendaraan bermotor bersama lini asuransi penerbangan, rekayasa, dan liabilitas mencatatkan kinerja negatif.

Adapun, klaim asuransi umum pada Q1/2019 tercatat sebesar Rp8,36 triliun atau tumbuh 37,9 persen dibandingkan dengan Q1/2018 (q-to-q) senilai Rp6,06 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh naiknya klaim seluruh lini asuransi kecuali asuransi liabilitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top