Menepis Tabu Bicara Uang dengan Pasangan

Membicarakan uang bisa jadi merupakan salah satu hal paling tabu dalam banyak kultur di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kenyataannya, uang juga merupakan sumber masalah utama dalam perpecahan sebuah keluarga.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  15:05 WIB
Menepis Tabu Bicara Uang dengan Pasangan
Ilustrasi - Thetrentonline

Bisnis.com, JAKARTA - Membicarakan uang bisa jadi merupakan salah satu hal paling tabu dalam banyak kultur di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kenyataannya, uang juga merupakan sumber masalah utama dalam perpecahan sebuah keluarga.

Sebuah survei yang dilakukan oleh WeCan pada 2017 menyatakan 65 persen pasangan di Indonesia tidak terbuka dalam masalah keuangan, yang mengakibatkan 47% konflik rumah tangga di sebabkan oleh problem finansial.

Pendiri dan Direktur Jagartha Advisor FX Iwan berpendapat, dalam kultur masyarakat Indonesia, stigma tabu saat membicarakan masalah keuangan dengan suami atau istri lebih sering terjadi di masyarakat menengah ke bawah. Di kalangan menengah atas dimana masing-masing suami dan istri bekerja, keterbukaan dalam soal keuangan sudah menjadi kewajiban, kendati tetap ditemukan kasus-kasus tertentu.

Menurut Iwan, sudah tidak selayaknya pasangan enggan untuk mendiskusikan masalah keuangan dan enggan terbuka mengenai penghasilan dan pengeluaran masing-masing. Sebab jika suatu saat terjadi masalah dalam keuangan keluarga, ketidakterbukaan akan menyebabkan pasangan saling menyalahkan dan akhirnya timbullah pertengkaran.

Keterbukaan soal keuangan dengan pasangan, selain untuk menghindari konflik di kemudian hari juga untuk mencapai tujuan finansial bersama.

"Yang namanya keuangan tetap perlu keterbukaan, terlepas dari kultur dan berbagai kalangan masyarakat, karena kalau tidak terbuka, suatu saat jika terjadi masalah keuangan ujung-ujungnya hanya saling menyalahkan," katanya.

Secara umum, membicarakan keuangan bisa dimulai dari liabilitas atau utang masing-masing. Menurut Iwan, selain aset pribadi, biasanya sebelum memulai pernikahan, pasangan membawa utang masing-masing. Hal ini perlu menjadi perhatian karena utang tersebut akan menjadi beban bersama.

Selanjutnya, diskusikan pula soal pengeluaran. Selain pengeluaran sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga, masing-masing pribadi dalam keluarga mungkin saja menyembunyikan pengeluaran tertentu, misalnya hobi mengoleksi sepatu atau tas bermerk. Di kemudian hari hal ini akan menimbulkan masalah jika kebiasaan pengeluaran ini tidak disampaikan terbuka kepada pasangan.

Selain itu, terbuka mengenai pengeluaran masing-masing juga diperlukan jika terjadi masalah keuangan tertentu. Anda dan pasangan dapat langsung berunding tentang hal yang sebaik ditunda dan tidak menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Lebih laus lagi, lanjut Iwan keterbukaan juga harus menyentuh soal prioritas keuangan dan tujuan finansial pribadi. Bagaimana menyatukan tujuan keuangan masing-masing juga turut menentukan harmonis tidaknya sebuah pernikahan.

"Dalam arti bukan dihilangkan [salah satu tujuan keuangan] tetapi disinkronkan atau ditentukan prioritasnya yang mana," ujarnya.

Jika Anda sudah memulai pernikahan tetapi selama ini belum terbuka soal keuangan kepada pasangan, ada baiknya untuk mulai membicarakan tiga hal di atas, yakni utang, pengeluaran dan tujuan keuangan pribadi.

Iwan juga mengatakan, dalam prinsip pengelolaan keluarga, sangat disarankan untuk memiliki rekening bank bersama. Perencanaan keuangan keluarga yang paling sederhana menurut Iwan adalah ketika pasangan memiliki rekening bersama dan rekening masing-masing. Dengan memisahkan kebutuhan keluarga dan kebutuhan pribadi di rekening yang terpisah, sejatinya sebuah keluarga telah mempraktikan perencanaan keuangan.

"Tetapi hal-hal simpel ini yang sayangnya di kebiasaan masyarakat kita belum jalan, sesimpel itu pun belum dilakukan," kata Iwan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
personal finance

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top