Per Juni 2019, Kredit Valas BNI Tumbuh 24,9 Persen

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan industri, yang hanya 10,6 persen secara year-on-year (yoy).
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  13:24 WIB
Per Juni 2019, Kredit Valas BNI Tumbuh 24,9 Persen
Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang, di Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membukukan kredit berdenominasi valuta asing (valas) sebesar Rp92,1 triliun per Juni 2019, tumbuh 24,9 persen secara year-on-year (yoy).

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan dengan industri. Faktor pendorong bagi bank adalah sinergi antara divisi kredit korporasi dengan Kantor Cabang Luar Negeri (KCLN), baik dalam bentuk local loan maupun offshore loan.

“Dibandingkan tahun lalu, ekspansi kredit valas BNI tumbuh tinggi pada sektor-sektor seperti manufaktur serta listrik, gas, dan air,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (21/8/2019).

Herry optimistis hingga akhir tahun ini, pertumbuhan kredit valas masih pada kisaran dua digit. BNI memproyeksi jenis pembiayaan itu tumbuh sekitar 15-17 persen secara tahunan.

Guna menyalurkan kredit dalam bentuk valas, BNI juga senantiasa menjaga likuditas mata uang asing. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan hubungan dengan nasabah atau debitur yang berorientasi ekspor serta memanfaatkan  penghimpunan dana valas dari KCLN.

Selain pendanaan dalam bentuk Dana Pihak Ketiga (DPK), bank pelat merah itu juga melakukan utilitasi pendanaan jangka pendek yang berasal dari dana nonkonvensional seperti repo dan pinjaman.

“Kondisi likudiitas sehat ini tercermin dari LDR [Loan-to-Deposit Ratio] valas BNI pada Juni 2019 yang sebesar 88,3 persen,” jelas Herry.

Direktur Tresuri & Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo menambahkan bahwa meskipun tumbuh tinggi, bank juga melakukan mitigasi risiko terkait kredit valas.

“Penyaluran kredit dalam valas BNI hanya dapat dilakukan untuk pembiayaan debitur yang memiliki cashflow valas,” terangnya.

Secara industri, pertumbuhan kredit valas konsisten melambat. Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2019, total kredit valas yang diberikan oleh bank umum kepada pihak ketiga mencapai Rp792,84 triliun. Realisasi itu tumbuh 10,6 persen yoy, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Mei 2018 yang sebesar 12,4 persen yoy.

Bahkan, secara tahun berjalan, kredit valas hanya tumbuh 1 persen year-to-date (ytd). Padahal, pada periode yang sama 2018, kredit valas secara tahun berjalan tumbuh 3,4 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni, kredit valas

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top