Aset Kelolaan Nasabah Kaya Bank DBS Meningkat 22 Persen

Executive Director of Sales & Distribution Melfrida Gultom mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari total aset yang dikelola atau Asset Under Management (AUM) tumbuh 22 persen secara tahunan per Juli 2019.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 06 September 2019  |  20:47 WIB
Aset Kelolaan Nasabah Kaya Bank DBS Meningkat 22 Persen
Nasabah tengah antre ATM DBS Bank - Bloomberg.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank DBS dan Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan pada bisnis DBS Treasures Private Client untuk segmen nasabah kaya atau High Net Worth Individual (HNWI).

Executive Director of Sales & Distribution Melfrida Gultom mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari total aset yang dikelola atau Asset Under Management (AUM) tumbuh 22 persen secara tahunan per Juli 2019.

Selain itu, peningkatan tersebut juga diiringi dengan meningkatnya jumlah nasabah DBS Treasures Private Cilent menjadi sekitar 2.000 nasabah atau naik 22 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

“Jumlah nasabah yang tergolong HNWI di DBS kurang dari 10 persen dari total nasabah, tapi kami melihat ada peluang karena kestabilan ekonomi dan politik, serta pertumbuhan HNWI di Indonesia cukup besar,” katanya, Jumat (6/9/2019).

Adapun, nasabah DBS yang tergolong sebagai HNWI adalah yang memiliki dana simpanan minimal Rp10 miliar. Melfrida mengatakan, perseroan akan terus berinovasi mengembangkan produk sesuai dengan target pasar yang ditarget, yaitu nasabah segmen HNWI tersebut.

Melfrida menyampaikan, perseroan menargetkan pertumbuhan yang lebih kencang hingga akhir tahun. Menurutnya, GDP Indonesia masih bertumbuh cukup besar.

Lebih lanjut, Melfrida mengutarakan, bisnis dana kelolaan tersebut bersama dengan produk konsumer lainnya menyumbang kontribusi 30 persen pada pendapatan non bunga atau pendapatan komisi perseroan per Juli 2019.

Selain produk yang telah ditawarkan DBS untuk nasabah HNWI dan dengan hadirnya digibank, imbuhnya, perseroan akan terus mengembangkan layanan digital sehingga pilihan nasabah dapat bertambah, misalnya dalam hal membeli obligasi pemerintah dan transfer valuta asing secara digital.

Perseroan pun tidak memiliki kekhawatiran di mana lock up period dana repatriasi dari tax amnesty akan segera berakhir dalam beberapa bulan ke depan.

Melfrida menambahkan, DBS telah menyiapkan produk unggulan yang bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan nasabah sehingga nantinya nasabah dapat memilih untuk tetap menempatkan dananya di DBS Indonesia.

Hingga Juni 2019, DBS Indonesia mencatatkan kinerja positif. Perseroan memukukan laba bersih sebesar Rp907 miliar, meningkat 58,53 persen secara tahunan (year on year) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp751 miliar.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh pendapatan operasional selain bunga, salah satunya pendapatan yang didapat dari keuntungan penualan aset keuangan, tercatat sebesar Rp384 miliar atau tumbuh 83,23 persen yoy. Selain itu, pendapatan komisi dan administrasi perseroan tercatat sebesar Rp907 miliar atau tumbuh 20,77 persen (yoy).

Di samping itu, perseroan mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp61,8 triliun. Nilai tersebut meningkat 9,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp56,48 triliun.

SVP, Head of Segmentation & Liabilities, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Fertia Pisa Valensia mengatakan perseroan memiliki 4 unggulan pilar dalam bisnis kelolaan nasabah kaya yang ke depan akan lebih ditonjolkan.

Pisa memaparkan keempat pilar tersebut adalah produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT), produk perlindungan nasabah HNWI, pelayanan wealth advisory yang dilengkapi dengan relationship manager dan investment counselor, serta pembekalan materi isu terkini kepada nasabah HNWI.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dbs

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top