Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kredit Melambat, Bank Besar Timbun Duit di Surat Berharga

Perlambatan penyaluran kredit membuat bank menumpuk dana di surat berharga. Hal itu terutama dilakukan oleh bank-bank besar, yakni bank umum kelompok usaha (BUKU) IV  yang memiliki dana berlebih di tengah pengetatan likuiditas perbankan.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 23 September 2019  |  15:35 WIB
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.

Bisnis.com, JAKARTA - Perlambatan penyaluran kredit membuat bank menumpuk dana di surat berharga. Hal itu terutama dilakukan oleh bank-bank besar, yakni bank umum kelompok usaha (BUKU) IV  yang memiliki dana berlebih di tengah pengetatan likuiditas perbankan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2019, dana BUKU IV yang ditempatkan pada surat berharga naik 10,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp540,8 triliun. Penempatan tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, karena kenaikan pada rentang 3,8% yoy hingga 5,3% yoy. Bahkan, pada Januari dan Februari dana BUKU IV pada surat berharga terkoreksi negatif.

Penempatan dana pada surat berharga itu tumbuh menguat di tengah perlambatan pertumbuhan kredit BUKU IV secara tahunan. Per Juni 2019, fungsi intermediasi bank bermodal paling jumbo ini naik 16,6% yoy, sedangkan dua bulan sebelumnya, masing-masing tumbuh 18,1% yoy.

Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Lando Simatupang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan strategi di tengah kondisi yang menantang. Penempatan dana di surat berharga lazimnya menjadi opsi terakhir bank untuk mendapatkan margin bunga.

Pasalnya surat berharga memiliki profil risiko rendah dan tidak menimbulkan beban modal. Hal ini kontras dengan dana yang digunakan untuk ekspansi kredit.

Pada bank kebanyakan, hal ini akan berimbas pada rentabilitas. Pasalnya surat berharga memiliki imbal hasil lebih kecil dibandingkan dengan bunga kredit.

Namun, struktur dana BUKU IV didominasi oleh dana murah (current account savings account/CASA). Mengutip data otoritas, per Juni 2019 rasio dana murah BUKU IV sebesar 64,0%. Kontras dengan BUKU I, II, dan III yang memiliki rasio kurang dari 50%.

Dengan demikian, saat kondisi ekonomi menantang, BUKU IV memiliki opsi untuk menempatkan dana pada surat berharga tanpa terlalu menggerus laba. “Bunga dari surat berharga masih bisa menutupi beban bunga dari dana murah,” jelas Lando kepada Bisnis, pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top