Disrupsi Digital di Industri Perbankan, Ini Strategi Bank DBS Indonesia

Kemajuan teknologi informasi era digital, menghempaskan hampir seluruh sektor industri yang masih bersandar kepada pola konvensional.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 27 September 2019  |  09:07 WIB
Disrupsi Digital di Industri Perbankan, Ini Strategi Bank DBS Indonesia
Paulus Sutisna, Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA -- Kemajuan teknologi informasi era digital, menghempaskan hampir seluruh sektor industri yang masih bersandar kepada pola konvensional.

Di dunia perbankan dan keuangan, kemunculan teknologi finansial atau tekfin mewarnai fenomena disrupsi segala hal berbau konvensional. 

Tak pernah terbayangkan, di industri yang memiliki prosedur ketat seperti perbankan, digitalisasi justru berlari lebih cepat. Jika dahulu untuk mengurus pendaftaran rekening atau pengajuan kredit dibutuhkan banyak proses verifikasi dan validasi, kini prosedur itu gugur. 

Dalam banyak hal, tekfin yang menawarkan kredit peer to peer, hanya mengharuskan nasabah memasukkan identitas via platform digital. Masukan nomor seluler, alamat, dan seketika proses pengajuan kredit berjalan. 

Hal itu membuat perbankan ramai-ramai membangun layanan berbasis digital. Paling tidak muncul serempak layanan digital banking dari beragam bank guna mewadahi transaksi yang ringkas bagi para nasabahnya.

Namun demikian, tak banyak yang telah menerapkan digitalisasi di setiap layanan perbankannya. Di Indonesia, Bank DBS Indonesia telah menerapkan full fledge digital banking melalui digibank by DBS. 

Menyerupai tekfin, layanan digibank milik DBS menawarkan banyak kemudahan. Untuk nasabah baru misalnya, hanya perlu mengurus rekening dalam akun lewat aplikasi. 

“Ini merupakan layanan sama sekali tanpa tatap muka. Bahkan tidak membutuhkan tanda tangan basah nasabah. Mungkin kalau bank yang lain untuk pengurusan pendaftaran nasabah masih diharuskan ke kantor cabang, di kami sepenuhnya tidak diperlukan,” jelas Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna.

Tak salah jika hingga kini Bank DBS masih memegang predikat sebagai Safest Bank in The World oleh Global Finance selama 10 tahun berturut-turut.

Lebih lanjut lagi, Bank DBS juga meraih predikat sebagai World’s Best Bank yang dianugerahkan oleh Euromoney di tahun 2019, Best Bank in The World oleh Global Finance di tahun 2018, Bank of The Year oleh The Banker di tahun 2018.

Serta World’s Best SME Banking dan World’s Best Digital Bank oleh Euromoney di tahun 2018. 

Dalam catatan penghargaan tersebut, DBS dinilai sebagai salah satu bank yang mampu mentransformasikan pola bisnis dengan kemajuan teknologi era digital. 

Bank DBS dianggap berada di jalur tepat untuk mengarah menuju masa depan industri melalui transformasi digital, keuangan yang kuat dan budaya tanggung jawab sosial perusahaan yang baik. 

Bank yang hingga kini merupakan pemilik aset terbesar di Asia Tenggara terus berupaya menggaet nasabah melalui pengembangan teknologi informasi, sehingga layanan kian sederhana dan lebih efisien. 

Secara umum, jerih payah itu mulai berbuah. DBS secara global menggulirkan strategi transformasi digital sejak 2014. Strategi itu meliputi perubahan digital sampai ke intinya, pemikiran berlandaskan perjalanan nasabah, perubahan budaya, serta metodologi yang mengukur dampak digitalisasi pada keuangan perusahaan. 

Sejalan dengan upaya itu, visi DBS pun bergeser dari bank andalan Asia, mengarah kepada layanan nasabah untuk Live More, Bank Less.

Teranyar, DBS pun diganjar penghargaan sebagai World's Best Digital Bank oleh Euromoney

Rekam jejak kesuksesan itu, tak mudah digapai. Sebagaimana diutarakan Paulus, DBS melihat kemajuan era digital sebagai fase kedua era disrupsi perbankan. 

Pada disrupsi jilid pertama, di Indonesia ditandai menjamurnya anjungan tunai mandiri (ATM) yang digelorakan bank-bank besar. Hasilnya, sebagai pionir pendirian ATM, bank besar tersebut kini mencaplok pasar perbankan nasional. 

“Kini giliran momen disrupsi kedua, dan kami sudah memulai lebih maju dengan digitalisasi layanan perbankan,” ungkap Paulus. 

Langkah inovatif lainnya pun dibesut Bank DBS Indonesia. Belum lama ini, DBS meluncurkan produk berjenis kredit tanpa agunan (KTA) Instan yang berbasis data digital. 

Lewat Algo Lending—nama sistem tersebut— nasabah DBS bisa mengajukan KTA tanpa harus tatap muka ataupun mengurus berkas. Cukup dengan memasukkan nomor seluler, serta alamat via platform digital, pengajuan nasabah serempak diproses. 

“Hanya butuh tiga menit untuk pengajuan KTA Instan tersebut. Kami memanfaatkan data yang diolah dari nomor seluler nasabah, kami menjalin kerja sama dengan pelayan data seluler, dengan tingkat akurasi data yang tinggi,” tambah Paulus. 

Untuk ke depan, infrastruktur layanan digital DBS ini akan lebih muda seiring dengan program identitas digital lewat e-KTP. “Kami memanfaatkan big data, secara infrastruktur kami telah mumpuni, semakin digital, semakin berkurang risiko fraud,” ujar Paulus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank dbs

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top