Kontribusi Remitansi Terhadap Fee Based Income Diprediksi Menurun

Menurut Rully, salah satu penopang pendapatan berbasis komisi bank hingga akhir tahun adalahnpemasukan dari bisnis bank garansi. Dia yakin pos ini masih akan berkontribusi besar karena masih menggeliatnya proyek-proyek infrastruktur.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  21:55 WIB
Kontribusi Remitansi Terhadap Fee Based Income Diprediksi Menurun
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Kontribusi remitansi terhadap pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) diprediksi menurun hingga akhir tahun.

Analis PT Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan, penurunan ini bisa terjadi lantaran
melambatnya pertumbuhan remitansi dari tenaga kerja indonesia (TKI). Namun, dia memprediksi pendapatan berbasis fee bank di Indonesia akan tetap tumbuh hingga akhir tahun.

“Secara rata-rata pertumbuhan majemuk dalam 3 tahun terakhir masih tumbuh cukup tinggi bisnis
remitensi TKI. FBI bank masih akan naik tapi sumbangan kenaikan dari remiten mulai menurun,” ujar Rully kepada Bisnis, Selasa (8/10/2019) malam.

Menurut Rully, salah satu penopang pendapatan berbasis komisi bank hingga akhir tahun adalah
pemasukan dari bisnis bank garansi. Dia yakin pos ini masih akan berkontribusi besar karena masih menggeliatnya proyek-proyek infrastruktur.

Pendapat lain dikemukakan analis bank Josua Pardede. Menurutnya, saat ini ada kecenderungan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi melambat sejak Juni 2019.

Hal ini diakibatkan melambatnya bisnis remitansi. Fenomena ini terjadi lantaran adanya musim ibadah haji pada Agustus lalu.

“Perlambatan ini mungkin ditopang oleh adanya musim haji pada bulan Agustus, sehingga mungkin bisnis remitensi dari perbankan syariah sedikit melambat. Kedepannya, mungkin fee based income dari perbankan syariah cenderung stabil akibat bisnis remitensi, yang mana berasal dari pendapatan TKI di Timur Tengah, tidak akan berubah banyak seiring dengan
melambatnya arus keluar pekerja ke Timur Tengah,” ujar Josua kepada Bisnis.

Josua memaparkan, saat ini remitansi Indonesia dari Timur Tengah mengalami kontraksi sebesar
2,4% yoy pada kuartal I/2019, dan hanya bertumbuh 0,09% yoy pada akhir semester I/2019. “Tantangannya adalah perlambatan remitansi itu sendiri serta diversifikasi dari non-fee based income,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
remitansi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top