Tantangan Perbankan Menyalurkan Kredit Hijau

Perbankan diminta lebih kreatif dalam mencari sumber dana lain agar likuiditas tetap terjaga ketika aktif menyalurkan pada sektor hijau yang berkelanjutan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  17:24 WIB
Tantangan Perbankan Menyalurkan Kredit Hijau
Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan diminta lebih kreatif dalam mencari sumber dana lain agar likuiditas tetap terjaga ketika aktif menyalurkan pada sektor hijau yang berkelanjutan.

Sustainable Finance Program dari International Finance Corporation (IFC) Rahajeng Pratiwi mengatakan selama ini 80% dana yang disalurkan perbankan untuk fasilitas kredit berasal dari dana pihak ketiga atau DPK nasabah yang masuk.

Sementara itu, pembiayaan pada proyek ramah lingkungan atau beremisi karbon rendah umumnya memiliki harga yang lebih mahal dan perlu waktu yang lebih panjang.

"Ketika bank mau memberikan kredit ke sektor hijau, contoh energi terbarukan tetapi dengan kondisi capital sekarang, misal hanya dapat diberikan jangka waktu 3 tahun maka akan sulit. Pasalnya, proyek hijau memerlukan grace period yang lebih panjang," katanya, Selasa (16/10/2019).

Untuk itu, perbankan tidak akan bisa hanya mengandalkan sumber dana konvensional seperti yang terbiasa dilakukan selama ini. Menurut Rahajeng, karakteristik DPK perbankan umumnya hanya untuk jangka pendek.

Selain itu, perbankan juga sebaiknya aktif menjalin koordinasi dan kolaborasi dengan lembaga pemerintah atau regulator keuangan agar bersedia sebagai lembaga penjamin dalam pembiayaan sebuah proyek hijau.

Hal ini penting, agar bank lebih prudent dan menanggung risiko yang lebih rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, kredit

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top