Latte Factor, Kebiasaan Belanja Receh yang Perlu Dihindari

Istilah latte ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengkritik kebiasaan masyarakat kota besar yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  13:38 WIB
Latte Factor, Kebiasaan Belanja Receh yang Perlu Dihindari
Cafelatte - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pernah dengar istilah latte factor? David Bach, penulis buku Finish Rich sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor, yaitu kebiasaan kecil tetapi rutin menghabiskan penghasilan.

Istilah latte ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengkritik kebiasaan masyarakat kota besar yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.

Istilah latte factor sebenarnya tidak hanya soal pergi ke kafe atau minum kopi saja, tetapi relevan juga untuk pengeluaran kecil lainnya, seperti beli air mineral kemasan, persediaan camilan, belanja online, atau nonton bioskop. Setiap orang memiliki latte factor dan jenisnya bisa berbeda.

Setelah mengetahui apa saja pengeluaran latte factor, selanjutnya adalah berapa banyak uang yang telah kita keluarkan untuk latte factor ini.

Biasanya, tidak terlalu dipikirkan karena hanya hitungan receh. Apalagi, kalau penghasilan cukup besar dan belum punya tanggungan. Namun jika kebiasaan ini dibiarkan, tanpa disadari total pengeluaran bisa sangat besar.

Menjawab penasaran mengenai pengeluaran latte factor, mari menghitungnya dengan cara sederhana. Anggap saja kopi kekinian yang termurah harganya Rp18.000, karena ukuranya kecil rasanya perlu beli lagi untuk minum sore. Berarti, sudah Rp36.000 keluar dari kocek. Barista kadang menawarkan extra shot hanya Rp5.000 saja.

Jumlah uang yang dikeluarkan sudah Rp41.000. Masih angka yang kecil bukan? Kalau begitu, tambahkan camilan sore sebagai teman minum kopi. Kalau kemarin sudah beli donat Rp10.000, sekarang menu pisang goreng kekinian harganya lebih murah Rp8.000. Satu pisang goreng tak cukup, belilah dua buah.

Uang yang sudah dikeluarkan untuk kopi dan camilan tersebut menjadi Rp57.000. Belum lagi untuk membelinya Anda terbiasa memanfaatkan jasa ojek online, toh hanya Rp7.000. Jadi total pengeluaran hari ini untuk kopi dan kudapan Rp64.000. Angka ini mungkin kecil bagi milenial yang telah sukses berkarier.

Jumlah rupiah hari ini belum termasuk transpor dan makan. Anggap saja naik taksi Rp100.000 dan makan sehari Rp80.000. Berarti total pengeluaran Rp244.000. Jika Anda masih menganggap ini angka yang kecil karena sebulan hanya keluar sekitar Rp4.880.000?

Lihat lagi macam-macam latte factor di atas. Angka ini tidak selalu sama setiap harinya. Ditambah lagi bagi yang memiliki cicilan KPR atau KPA, bisa jadi Rp10 juta habis begitu saja.

Mereka yang peduli pada hari esoknya akan menyisihkan uang tidak sekadar untuk ditabung tetapi juga melengkapi diri dengan asuransi lalu berinvestasi. Jika pengeluaran latte factor dikurangi, tentu bisa bantu milenial mendapat hari esok yang lebih baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
personal finance

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top