Kompromi Bank Dengan Perusahaan Teknologi Finansial

Teknologi telah banyak mengubah kondisi industri 5 tahun terakhir. Mulai dari sektor perdagangan hingga keuangan telah menjadi lahan subur bagi para startup atau perusahaan rintisan digital untuk tumbuh kembang.
Muhammad Khadafi, Maria Elena & M. Richard
Muhammad Khadafi, Maria Elena & M. Richard - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  10:36 WIB
Kompromi Bank Dengan Perusahaan Teknologi Finansial
Pegawai Bank Indonesia (BI) menunjukkan bukti transaksi menggunakan peluncuran QR Code Indonesian Standard (QRIS) di halaman Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). Bank Indonesia meluncurkan QRIS untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking dan implementasi QRIS secara nasional efektif berlaku mulai 1 Januari 2020, guna memberikan masa transisi persiapan bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Teknologi telah banyak mengubah kondisi industri 5 tahun terakhir. Mulai dari sektor perdagangan hingga keuangan telah menjadi lahan subur bagi para startup atau perusahaan rintisan digital untuk tumbuh kembang.

Banyak pihak mulai ragu skema bisnis konvensional akan tetap bertahan, termasuk bisnis bank. Pasalnya, konsumen di era digital saat ini cenderung menuntut layanan yang serba instan.

Perbankan kini harus mampu memberikan sebanyak mungkin layanan digital, bila tak ingin kehilangan pangsa pasar. Hal ini tentu tidak mudah, khususnya bagi bank papan atas.

Apabila diibaratkan sebagai makhluk hidup, bank memiliki jantung yang disebut core banking. Di dalamnya tersimpan semua data penting bank  untuk menjalankan bisnisnya, seperti data nasabah dan rekam jejak transaksi.

Selayaknya jantung, core banking harus dijaga detaknya, guna menjamin operasional berjalan dengan lancar. Semakin besar bank, semakin rumit pula core banking-nya.

Chief Information Officer PT Bank Permata Tbk. Abdy Dharma Salimin mengatakan bahwa transformasi digital telah menjadi keniscayaan. Namun di luar itu, memiliki infrastruktur application programming interface (API) juga telah menjadi sebuah keharusan.

Pasalnya, kemajuan teknologi telah membawa manusia pada era di mana banyak kebutuhan dapat terpenuhi hanya dengan sentuhan atau sapuan jari pada layar smartphone. Integrasi satu layanan dengan yang lain pun menjadi penting sebagai upaya merangkul sebanyak mungkin pasar.

“Nasabah itu sebenarnya tidak perduli seberapa canggih teknologinya, tapi seberapa besar inovasi digital itu memberikan manfaat buat mereka,” ujar pria yang juga sempat duduk sebagai Global Technology Head, Standard Chartered itu.

Terkait hal tersebut, API membuat bank dapat membuka diri kepada pihak ketiga. Sistem open banking ini membuat bank dapat bersinergi langsung dengan ekosistem digital

Saat ini, hampir setengah populasi Indonesia berusia di bahwa 30 tahun. Sebanyak 60%—70% hidup sebagai masyarakat urban yang umumnya teredukasi dengan baik dan tergolong digital savvy atau melek teknologi.

Peta persaingan bank kini tidak lagi sebatas dengan bank lain, tetapi juga dengan para pelaku perusahaan teknolgi finansial (tekfin) dan juga e-commerce.

Kontras dengan perbankan, tekfin dan dagang-el merupakan perusahaan yang memiliki semangat digital sedari awal terbentuk. Sementara itu, bank biasanya kesulitan bersaing karena terbentur dengan sejumlah aturan dan terbiasa dengan cara kerja konvensional.

“API membuka jalan untuk bersinergi. Kami masuk menjadi penyedia sumber dana bagi konsumen mereka [tekfin atau dagang-el] dan rekening penampung dari transaksi,” katanya.

Bank Permata sendiri telah menerapkan API dan melihat hasilnya. Tahun ini, pertambahan rekening baru per September sudah mencapai 7,6 juta akun, jauh lebih banyak dibandingkan capaian 2016 yang hanya 1,6 juta akun.  “Sebanyak 72% [capaian 2019] itu dari API,” katanya.

Tak hanya Bank Permata, tetapi sejumlah bank juga mulai mematangkan API. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. contohnya yang telah meluncurkan API sejak Agustus 2018. Saat ini setidaknya ada 75 layanan yang dapat diakses oleh pihak ketiga.

Namun, Executive Vice President Digital Center of Excellence BRI Kaspar Situmorang sempat mengatakan bahwa dampak dari API masih terbilang kecil. Transaksi melalui API tercatat sebesar Rp50 miliar per hari pada paruh pertama tahun ini.

Senada, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga sudah mulai menerapkan skema open banking atau API sejak paruh kedua tahun lalu. Saat ini bank mencatat telah berkerja sama dengan lebih dari 500 perusahaan. “Mayoritas perusahaan itu tekfin, dagang-el, dan startup lain,” kata Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI Dadang Setiabudi.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Samual menyampaikan hampir semua bank besar telah menganggarkan belanja modal yang cukup besar untuk mengaplikasikan API beberapa tahun lalu.

Namun, belum semua bank kecil sudah menerapkan API. Alhasil, potensi perkembangan tekfin tidak dapat dimanfaatkan optimal. Kehadiran tekfin justru menjadi pesaing bagi bank kecil ini.

Namun, begitu mereka mengadopsi API, perusahaan tekfin tak lagi menjadi penantang bank. Persaingan yang sedari awal dikhawatirkan dapat diubah menjadi sinergi yang saling menguntungkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, fintech

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top