Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsumsi Emas Berkorelasi dengan Pendapatan Kelas Menengah

Pembelian logam mulia di negara-negara berkembang setidaknya memiliki dua tujuan utama, yakni untuk konsumsi maupun investasi.
Emas lantakan./ Stefan Wermuth - Bloomberg
Emas lantakan./ Stefan Wermuth - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat pembelian logam mulia dinilai sejalan dengan pertumbuhan tingkat konsumsi kelas menengah sampai titik tertentu. Kondisi tersebut dinilai menjadi potensi bagi pertumbuhan layanan tabungan emas digital.

Hal tersebut disampaikan oleh CEO PT Aurum Digital Internusa (Masduit) Bony Faliandri Hudi kepada Bisnis terkait perkembangan layanan tabungan emas digital. Menurut dia, pertumbuhan jumlah nasabah tabungan emas digital sejalan dengan pertumbuhan tingkat pendapatan masyarakat.

Bony merujuk kepada hasil studi Jingting Liu yang bertajuk Covered in Gold: Examining Gold Consumption by Middle Class Consumers in Emerging Markets. Berdasarkan studi tersebut, kenaikan tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) sejalan dengan peningkatan konsumsi emas.

Pembelian logam mulia di negara-negara berkembang tersebut setidaknya memiliki dua tujuan utama, yakni untuk konsumsi maupun investasi. Pembelian itu pun didasari oleh tiga faktor, pertama yakni faktor kebudayaan, di mana terdapat nilai tersendiri dari emas sehingga masyarakat terus meningkatkan kepemilikan emas.

Faktor kedua adalah faktor institusional, yakni adanya pengembangan jual beli emas di pasar yang ditunjang oleh seperangkat regulasi yang disusun oleh pemerintah. Lalu, faktor ketiga adalah faktor ekonomi, yakni emas dapat menghasilkan pendapatan dan menjadi acuan bagi sejumlah aktivitas perekonomian.

Menurut Bony, riset tersebut menunjukkan gejala yang menarik antara peningkatan tingkat pendapatan kelas menengah dengan pembelian logam mulia. Gejala di negara-negara berkembang yang digambarkan dalam riset itu pun menurutnya dapat menggambarkan kondisi Indonesia.

"Jadi, untuk kelas menengah, semakin tinggi disposable income-nya, maka semakin tinggi konsumsi logam mulianya. Makanya, seperti di Indonesia ketika dapat tunjangan hari raya [THR], pembelian logam mulia cenderung tinggi," ujar Bony kepada Bisnis, Kamis (5/3/2020).

Namun, menurut Bony, riset tersebut menunjukkan adanya titik maksimal tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan kelas menengah yang berkaitan dengan pembelian emas. Saat masyarakat kelas menengah memiliki penghasilan di atas tingkat tersebut, mereka akan memilih instrumen investasi lain dengan berbagai pertimbangan.

"Sampai titik disposable income tertentu, maka konsumsi emas akan menurun dan masyarakat akan cenderung memilih instrumen investasi lainnya. Saya rasa sangat relevan dengan kondisi di Indonesia," ujar dia.

Kondisi tersebut menurutnya mendasari Masduit untuk mengembangkan layanan tabungan emas digital yang akan turut menyasar nasabah kelas menengah. Terlebih, saat ini instrumen investasi lain mengalami perlambatan sehingga terdapat potensi masyarakat untuk berinvestasi di instrumen safe haven seperti emas.

"Kami perlu membuka wawasan masyarakat bahwa selain konsumsi, saving, dan spekulasi [investasi], proteksi nilai menjadi hal yang wajib untuk dilakukan," ujar Bony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper