Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Perbankan Masih Terima Permintaan Kredit Baru

Sekarang ini fokus perbankan seharusnya mengamankan kredit yang sedang berjalan, bukan kredit baru.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 28 April 2020  |  22:55 WIB
ILUSTRASI - Penampakan trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. - Istimewa / PLN
ILUSTRASI - Penampakan trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. - Istimewa / PLN

Bisnis.com, JAKARTA - Industri perbankan mengakui saat ini masih ada permintaan kredit baru meskipun jumlahnya menurun dari kondisi normal.

Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengakui permintaan kredit memang masih ada saat ini. Hanya saja, permintaan kredit tersebut tidak begitu besar bahkan pertumbuhannya cenderung melambat.

Pasalnya, semua jenis sektor mengalami penurunan permintaan kredit, tidak terkecuali sektor konsumsi. Lani menyebutkan, penurunan kredit hampir mencapai 50 persen dari kondisi normal. Hal tersebut terjadi di semua sektor.

“Tidak ada [permintaan kredit yang tinggi], semua turun banyak. Masyarakat saya rasa menahan diri untuk tidak mengambil loan," katanya kepada Bisnis, Selasa (28/4/2020).

Dihubungi terpisah, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan saat ini penyaluran kredit masih dilakukan untuk sektor yang bisnisnya berjalan baik walaupun permintaan kredit baru cukup terbatas. Hanya saja, dia tidak menyebutkan secara rinci sektor tersebut karena dinilai cukup variatif.

Bank Mandiri saat ini fokus melakukan penyaluran kredit untuk penyelesaian proyek-proyek yang sudah berjalan, terutama proyek-proyek infrastruktur. Adapun, permintaan kredit baru maupun tambahan untuk sektor tekstil juga hampir tidak ada, kendati banyak pelaku usaha di bidang tersebut tetap bergerak dan beralih memproduksi alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan pihaknya masih menyalurkan kredit untuk industri tekstil dan sektor farmasi yang memproduksi vitamin.

Bank BCA, lanjutnya, akan terus mendorong fungsi intermediasi dengan menyalurkan kredit. Meskipun saat ini masih lesu, Jahja yakin pada waktu yang akan datang permintaan kredit pasti akan bertumbuh dari berbagai sektor, khususnya dari badan usaha milik negara seperti PLN, Jasa Marga maupun pabrik obat dan pabrik vitamin.

“Untuk yang bagus-bagus seperti food, packaging, logistic company bisa diberi kredit,” kata Jahja. 

Pengamat Ekonomi dari Perbanas Institute Piter Abdullah menilai permintaan kredit masih mengalir dari berbagai sektor tapi jumlahnya dipastikan menurun dan digunakan untuk kebutuhan likuiditas debitur seperti membayar cicilan.

Menurutnya, sebagaian besar permintaan kredit, ditujukan bukan untuk tambahan modal kerja ataupun investasi. “Permintaan kredit kalaupun ada dari sektor tertentu, tidak bisa menahan laju menurunnya permintaan kredit,” ujar Piter.

Menurutnya, perbankan harus extra hati-hati dalam mengevaluasi kelayakan kredit. Apalagi saat ini fokus perbankan bukan untuk menyalurkan kredit baru tetapi lebih menjaga kesehatan kredit yang sedang berjalan.

“Sekarang ini fokus perbankan seharusnya mengamankan kredit yang sedang berjalan, bukan kredit baru,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top