Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Arus Kas Kian Sulit, Perusahaan Pembiayaan Minta Restrukturisasi Kredit dari Bank

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia mengajukan keringanan pembayaran kredit alias restrukturisasi dari perbankan agar lebih optimal dalam merestrukturisasi pembiayaan ke nasabah.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 29 April 2020  |  00:50 WIB
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno (kiri) berbincang dengan Chief Risk Officer Akseleran Elquino Simanjuntak di sela-sela diskusi Digital Economic Forum  - Bisnis / Dedi Gunawan
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno (kiri) berbincang dengan Chief Risk Officer Akseleran Elquino Simanjuntak di sela-sela diskusi Digital Economic Forum - Bisnis / Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia mengajukan keringanan pembayaran kredit alias restrukturisasi dari perbankan agar lebih optimal dalam merestrukturisasi pembiayaan ke nasabah.

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno di masa sulit saat ini, industri pembiayaan juga berpotensi “terjepit” jika arus kas semakin tidak lancar.

Perusahaan pembiayaan, kata dia, juga  perlu menjaga likuiditasnya karena perannya adalah menyalurkan dana dari perbankan kepada debitur. Dia mengibaratkan bahwa perusahaan pembiayaan merupakan kreditur bagi masyarakat, tetapi juga merupakan debitur bagi perbankan yang menjadi sumber dana.

"Kalau banyak debitur yang mengajukan kepada kami untuk menunda pembayaran cicilan atau hanya membayar bunga, tetapi kami harus membayar bunga dan pokok kepada perbankan, kami akan mengalami kesulitan likuiditas," ujar pada Selasa (28/4/2020).

APPI mengharapkan adanya kerja sama antara industri pembiayaan dengan pihak-pihak lain dalam mengimplementasikan kebijakan restrukturisasi secara optimal, di antaranya adalah dengan industri perbankan dan asuransi. Kerja sama tersebut dinilai dapat menjaga cashflow perusahaan pembiayaan di masa sulit seperti ini.

Suwandi menjelaskan bahwa pihaknya mengharapkan adanya konsep mirroring dengan perbankan, artinya perusahaan pembiayaan memberikan restrukturisasi yang optimal kepada masyarakat selaku debitur, tetapi juga mendapatkan restrukturisasi dari perbankan.

APPI pun menyatakan telah mengirimkan surat kepada Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) untuk memohon adanya relaksasi pembayaran asuransi, misalnya perpanjangan tenor pembayaran premi tanpa biaya tambahan.

"Sampai saat ini kami sudah mendapatkan jawaban dari AAUI, tetap meminta dibayar. Namun, mungkin dengan perhitungan premi yang lebih kecil," ujar Suwandi.

Dia menjelaskan bahwa dalam kondisi saat ini, seluruh sektor jasa keuangan, dari hulu ke hilir perlu bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di masyarakat. Kerja sama itu pun dinilai penting untuk menjaga kinerja masing-masing sektor dalam kondisi penuh ketidakpastian ini.

Berdasarkan perhitungan APPI, industri pembiayaan berpotensi menanggung kerugian Rp24,2 triliun dalam tiga bulan ke depan akibat penundaan pembayaran cicilan dan larangan eksekusi kendaraan jaminan.

Dia menjelaskan, kondisi di lapangan saat ini banyak debitur yang menolak ditagih. Selain itu, terdapat sejumlah pemerintah daerah (pemda) yang salah persepsi dalam menangkap pesan presiden terkait kebijakan restrukturisasi, sehingga mereka justru mengeluarkan himbauan penolakan penagihan atau penjemputan angsuran.

"Banyak multitafsir di masyarakat, tafsiran yang populer itu boleh libur cicilan selama satu tahun, padahal di dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan [POJK] boleh relaksasi maksimal satu tahun. Terkait adanya himbauan tidak boleh eksekusi, OJK telah mengklarifikasi bahwa penarikan kendaraan masih boleh selama sesuai dengan koridor hukum," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit perusahaan pembiayaan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top