Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Perencanaan Keuangan Makin Penting di Era Kenormalan Baru

Dalam situasi pandemi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti membuat arus kas menjadi positif, menekan pengeluaran, melunasi utang, dan memiliki asuransi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  16:07 WIB
Ilustrai uang. Bisnis - Arief Hermawan P
Ilustrai uang. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Kesadaran akan perencanaan keuangan dianggap semakin penting di tengah era kenormalan baru. Perencanaan yang matang diharapkan bisa membuat stabilitas keuangan terjamin di masa mendatang.

Financial Planner Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan kondisi pandemi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah berdampak terhadap keuangan individu, mulai dari pemangkasan gaji dan tunjangan hingga pemutusan hubungan kerja.

“Ini tentunya membuat kita harus membenahi pengaturan dan perencanaan keuangan kita, menyesuaikan dengan kondisi saat ini,” katanya dalam webinar Perencanaan Keuangan di Era New Normal bersama Bursa Efek Indonesia, Finansialku, dan Panin Sekuritas Bandung via video streaming, Selasa (23/6/2020).

Menurut Melvin, dalam situasi pandemi  yang memicu ketidakpastian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti membuat arus kas menjadi positif, menekan pengeluaran, melunasi utang, dan memiliki asuransi.

Untuk melakukan hal tersebut, perlu dilakukan pemeriksaaan keuangan atau  financial check up untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan saat ini.

Adapun beberapa indikator yang bisa diperiksa  antara lain rasio tabungan, rasio likuiditas, rasio utang terhadap aset dan rasio kemampuan pelunasan utang. Penjelasan singkat terkait indikator tersebut dirangkum sebagai berikut : 

  • Rasio tabungan ideal adalah 20 persen dari penghasilan. Jadi, sisihkan 20 persen penghasilan untuk ditabung.
  • Rasio utang tidak lebih dari 50 persen aset. Dengan kata lain, jumlah utang tidak melebihi 50 persen nilai aset. 
  • Rasio kemampuan pelunasan utang idealnya sama dengan atau lebih kecil dari 35 persen. 
  • Rasio likuiditas idealnya 6 hingga 12 kali dari pendapatan.Dalam arti lain, dana darurat yang perlu tersedia mencapai 6 hingga 12 kali penghasilan.
  • Untuk yang belum menikah, dana darurat 6 kali dari penghasilan dinilai cukup. Tapi bagi yang sudah menikah, disarankan memiliki dana darurat setara 12 kali pendapatan.

“Jadi kalau ada apa-apa, misalnya kayak lagi pandemi gini tiba-tiba kena PHK, masih bisa bertahan dalam jangka sekian bulan hingga satu tahun,” tutur Melvin. 

Melvin menuturkan, setelah lini keuangan mencukupi, perhatian bisa diarahkan pada alokasi investasi. Jumlah alokasi akan berbeda tergantung tujuan dan jangka waktu investasi sesuai kebutuhan masing-masing individu. 

“Investasi sifatnya bukan hanya sekedar koleksi tapi harus dipilih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi tersebut,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

literasi keuangan tips keuangan
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top