Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OJK Buka Opsi Keringanan Kredit hingga 2022

Kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit tertuang dalam POJK No.11/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-2019.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  16:38 WIB
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan kata sambutan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 dan Arahan Presiden RI di Jakarta, Jumat (11/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan kata sambutan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 dan Arahan Presiden RI di Jakarta, Jumat (11/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertimbangkan perpanjangan masa relaksasi restrukturisasi kredit.

Kebijakan tersebut tertuang dalam POJK No.11/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-2019.

Dalam paparannya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan pihaknya saat ini tengah mendiskusikan kembali perpanjangan masa relaksasi aturan restrukturisasi yang saat ini habis pada Maret 2021. Aturan ini rencananya di tambah satu tahun lagi atau hingga 2022.

"Dari berbagai kebijakan kami melihat banyak bank bisa leluasa untuk survive. Kebijakan ini masih terus bisa kami tambah kalau memang diperlukan karena seluruh dunia melakukan deregulasi hal yang sama, bahkan termasuk penerapan basel 3," katanya, dalam webinar Indef, Kamis (23/7/2020).

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Teguh Supangkat mengafirmasi rencana tersebut.

"Kami memang akan melakukan kajian dalam waktu yang cepat kami akan melihat kami juga terus lakukan kajian semua stimulus," katanya, dalam Webminar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia, Kamis (23/7/2020).

Dia menjelaskan OJK perlu melihat dampak positif dari setiap relaksasi, baik untuk industri jasa keuangan maupun industri riil. Setelah kajian dampak relaksasi dilakukan, barulah OJK akan membawa usulan tersebut ke rapat dewan komisioner.

"Namun, bagaimana pun di aturan yang sudah ada, kami sudah membuka peluang untuk perpanjangan tersebut. Bisa saja," imbuhnya.

Berdasarkan data OJK, hingga 13 Juli 2020, realisasi restrukturisasi kredit di perbankan mencapai Rp776,99 triliun dengan nasabah sebanyak 6,75 juta.

Sementara itu, di perusahaan pembiayaan tercatat senilai Rp148,7 triliun outstanding restrukturisasi dengan jumlah kontrak yang disetujui sebanyak 4,04 juta per 21 Juli 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan OJK restrukturisasi utang
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top