Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perbarindo Jelaskan Kondisi BPR di Masa Pandemi

Hingga Mei 2020, aset BPR dalam negeri telah mencapai Rp145 triliun.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 06 Agustus 2020  |  12:18 WIB
Perbarindo - ilustrasi
Perbarindo - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menilai industri BPR dan BPRS masih dalam kondisi sehat dengan aset yang tumbuh sebesar 6,08 persen pada Mei 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto mengatakan posisi aset BPR hingga Mei 2020 telah mencapai Rp145 triliun.

Penghimpunan dana masyarakat yang disimpan di BPR dalam bentuk tabungan tumbuh juga tumbuh pada Mei 2020 sebesar 6,77 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (year on year/YoY). Begitu juga dengan deposito yang masih tumbuh sebesar 6,43 persen YoY pada Mei 2020.

Dari sisi likuiditas, BPR mampu menjaga rasio penyaluran kredit dibandingkan simpanan (loan to deposit ratio/LDR) yang mencapai 79,87 persen. Pada Mei 2020, BPR juga menyalurkan pertumbuhan kredit sebesar 5,5 persen YoY dengan capaian Rp110 triliun.

"Masyarakat masih sangat percaya terhadap industri ini. Hal ini terlihat dengan tumbuhnya penghimpunan dana masyarakat. Begitu pula dari sisi penyaluran kredit, dalam masa pandemi masih tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat," katanya seperti dikutip dalam rilis, Kamis (6/8/2020).

Joko menegaskan dalam masa pandemi ini, industri BPR – BPRS akan terus menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan keuangan kepada masyarakat dengan tetap memegang teguh protokol kesehatan.

Perbarindo pun mengapresiasi langkah - langkah yang telah diambil oleh Pemerintah dan regulator dalam menyelamatkan ekonomi Indonesia sebagai dampak adanya Pandemi Covid-19.

"Kami menyambut baik kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, OJK dan LPS yang telah memberikan insentif-insetif bagi Industri BPR – BPRS untuk mengoptimalkan ruang relaksasi dalam menjaga kinerjanya. Tentu upaya tersebut merupakan cara yang ampuh bagi kita bersama untuk tetap bertahan, bangkit dan menang melewati masa pandemi ini," sebutnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, kondisi perbankan secara keseluruhan masih relatif stabil.

Untuk menjaga likuiditas perbankan, lanjutnya, LPS kembali menurunkan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di bank umum dan BPR masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).

Saat ini, tingkat bunga penjaminan LPS di bank umum untuk simpanan rupiah adalah 5,25 persen, bank umum untuk simpanan valas 1,5 persen, dan di BPR untuk simpanan rupiah sebesar 7,75 persen.

“LPS Bersama dengan OJK juga telah memberikan beberapa insentif bagi BPR. Dari sisi LPS misalnya memberi keringanan bagi perbankan dalam membayar premi penjaminan yang berlaku. Relaksasi pembayaran premi penjaminan berlaku selama 3 semester mulai semester II 2020 hingga semester II 2021. Keringanan tersebut berupa penghapusan denda bagi yang terlambat membayar premi. Hal ini dalam rangka memberi ruang gerak bagi perbankan nasional,” katanya.

OJK juga telah menerapkan relaksasi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh BPR di tengah masa sulit akibat Pandemi ini.

Melalui POJK Nomor 34/POJK.03/2020 tentang Kebijakan Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Sebagai Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 pada tanggal 2 Juni 2020, OJK meringankan penghitungan Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP) umum, dan nilai Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) sebagai faktor pengurang modal inti dalam perhitungan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpr perbarindo bprs
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top