Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Antiklimaks Masa Pandemi, Fintech P2P Bujuk Lender Gelontorkan Pendanaan Lagi

Para penyelenggara Fintech peer-to-peer (P2P) lending mulai merayu kembali para pendana (lender) untuk kembali aktif, seiring mulai bangkitnya dunia usaha dan perekonomian nasional memasuki semester II/2020.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  22:39 WIB
Financial Technology (Fintech). - channelasia
Financial Technology (Fintech). - channelasia

Bisnis.com, JAKARTA — Para penyelenggara Fintech peer-to-peer (P2P) lending mulai merayu kembali para pendana (lender) untuk kembali aktif, seiring mulai bangkitnya dunia usaha dan perekonomian nasional memasuki semester II/2020.

Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede menyebut inovasi para penyelenggara P2P lending akan menjadi kunci.

"Platform yang punya langkah mempertahankan kualitas kredit para peminjam [borrower] tetap bagus, dan punya inovasi mempertahankan kepercayaan para lender-nya, itulah yang bisa bertahan," ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (7/8/2020).

Sebelumnya, pandemi Covid-19 tak bisa dipungkiri turut membawa tren tersendiri di kalangan para penyelenggara fintech P2P lending dalam hal seleksi lebih ketat terhadap borrower yang akan direkomendasikan.

Mulai dari memutakhirkan algoritma credit scoring masing-masing, berfokus menerima pengajuan pinjaman berisiko rendah, mengutamakan pembiayaan rantai pasok lewat kerja sama dengan pihak ketiga, dan lebih memprioritaskan invoice financing.

Hal ini tampak dari portofolio PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) yang akan memprioritaskan borrower-borrower berisiko rendah dalam beberapa waktu ke depan.

CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan pun mengungkap apabila portofolio Akseleran terhadap invoice financing sebelum pandemi hanya 30 persen, kini berbalik mendominasi menjadi 60 persen dari total portofolio di era new normal.

"Invoice financing lebih aman karena underlying-nya invoice, pekerjaan borrower sudah selesai, tinggal menunggu dibayar oleh payor. Sebelumnya [portofolio Akseleran] sebagian besar berupa pre-invoice financing yang underlyingnya baru SPK atau kontrak sebelum memulai pekerjaan," jelas Ivan kepada Bisnis.



Sekadar informasi, invoice financing berarti pelaku usaha sudah menyelesaikan pekerjaannya namun belum menerima pembayaran, sehingga butuh suntikan modal untuk likuiditasnya.

Hal ini pun sukses menjaga kualitas tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 (TKB90) di angka 97,1 persen. Adapun, angka non-performing loan [NPL] Akseleran kini tinggal 0,44 persen saja, naik dari NPF Akseleran sebesar 0,7 persen di akhir 2019.

Namun, bukan berarti Akseleran mulai 'anti' terhadap pre-invoice financing. Ivan menjelaskan apabila pelaku usaha mampu membuktikan memiliki cash flow yang baik, Akseleran akan tetap mengakomodasi pinjamannya.

"Selain itu, kita memperketat assesmen pinjaman, termasuk beberapa rasio keuangan yang kami terapkan di credit scoring model kami. Serta ketiga, kita memperketat monitoring serta efisiensi penagihan yang kami lakukan," tambahnya.

Sedikit berbeda, langkah inovasi PT Lunaria Annua Teknologi (KoinWorks) lebih menekankan pada pendidikan kepada masyarakat, yang sempat memiliki rasa ragu menjadi pengguna platform P2P lending akibat Covid-19 dan beberapa isu miring investasi.

Frecy Ferry Daswaty, VP of Marketing KoinWorks menjelaskan bahwa KoinWorks berupaya membantu masyarakat memilih produk finansial untuk pengembangan aset yang sesuai kebutuhan dan karakter, termasuk pemilihan platform-nya.

Hal ini dilengkapi dengan inovasi di platform KoinWorks terus dilakukan dalam bentuk pengembangan ragam produk finansial di dalam platform untuk memenuhi kebutuhan finansial individu dan bisnis.

"Tantangannya ada di masyarakat di mana tidak semua orang menerima perubahan keadaan secara cepat dalam melihat perkembangan teknologi. Sebagai contoh emas digital. Walau memang di kota besar financial literacy sudah baik, tapi berbeda di sub-urban," ungkap Frecy.

Inilah yang melatarbelakangi kenapa secara berkala setiap bulan KoinWorks selalu mengadakan event edukasi terkait pengelolaan finansial guna terciptanya literasi keuangan yang baik melalui kegiatan yang bersifat online dan offline.

Adapun langkah unik lainnya ditempuh platform Fintech Lending Syariah PT Dana Syariah Indonesia (Danasyariah.id).

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Danasyariah.id yang fokus ke penyaluran pembiayaan ke pembangunan properti ini justru panen pendanaan dari lender karena secara aktif berkomunikasi secara dua arah.

"Untuk menenangkan pemilik dana di saat pandemi, tim Danasyariah intensif memberikan laporan progress pembangunan properti melalui email, WA, dan sosial media langsung ke pemilik dana. Sehingga bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemilik dana," ujar Founder & CEO Dana Syariah Indonesia Taufiq Aljufri kepada Bisnis.

Taufiq percaya, dengan pelayanan dalam jaringan (daring/online) yang baik dari Danasyariah.id, akan banyak user eksisting maupun baru yang tertarik terus menginvestasikan dananya ke Danasyariah, karena merasa lebih aman dan produktif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech fintech Teknologi Finansial
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top