Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Percepat Transformasi, Perusahaan Konvensional Perlu Kolaborasi dengan Startup

Alamanda Shantika Santoso, President Director Binar Academy sekaligus advisor Mandiri Capital Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan konvensional mau tak mau harus bertransformasi.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 21 September 2020  |  16:45 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan paradigma berbisnis akibat pandemi Covid-19 membuat semua lini harus masuk dan terintegrasi dengan platform digital.

Alamanda Shantika Santoso, President Director Binar Academy sekaligus advisor Mandiri Capital Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan konvensional mau tak mau harus bertransformasi. Maka, demi mempersingkat waktu transformasi, kolaborasi dan sinergi dengan perusahaan rintisan atau perusahaan yang mengembangkan platform digital merupakan keniscayaan.

"Bahkan, saat ini banyak perusahaan besar baik itu swasta nasional maupun BUMN melakukan investasi langsung ke perusahaan rintisan digital untuk mencari sinergi atau berkolaborasi," ujar Alamanda dalam keterangannya, Senin (21/9/2020).

Alamanda memberikan contoh, beberapa perusahaan swasta nasional yang sudah melakukan investasi langsung di perusahaan rintisan di antaranya adalah BCA melalui Central Capital Ventura (SYNRGY Accelerator), Astra Internasional, Bank OCBC NISP melalui OCBC NISP Ventura dan Bank CIMB Niaga bersama Genesis Alternatives Ventures.

Tak ketinggalan, perusahaan BUMN yang telah melakukan investasi untuk bersinergi dengan perusahaan rintisan di antaranya adalah BRI melalui BRI Ventura Investama, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital Indonesia dan Telkom melalui MDI Venture.

Dari pengalamannya bersama Mandiri Capital, Alamanda mengisahkan beberapa manfaat ketika pihaknya memutuskan masuk dan berinvestasi di perusahaan rintisan digital.

Selain untuk memperkuat lini bisnis yang selama ini sudah berjalan, salah satu keuntungan Mandiri Capital masuk ke startup adalah mempercepat transformasi digital di ranah perbankan selaku bisnis utama Mandiri. 

"Mungkin bisnis konvensional sudah mulai sadar tidak seharusnya berkompetisi dengan perusahaan rintisan digital. Justru saat ini perusahaan rintisan harus bersinergi dan berkolaborasi dengan startup digital. Sebab antara perusahaan konvensional dan digital mempunyai value masing-masing," tambahnya.

Menurutnya, transformasi digital tak sekadar membuat aplikasi, namun juga harus mengubah bisnis model, kapabilitas serta kapasitas SDM, sehingga perusahaan konvensional yang sudah terlalu besar memiliki kecenderungan sulit untuk melakukan transformasi digital.

"Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat bertransformasi ke digital. Dengan berinvestasi dan berkolaborasi di perusahaan digital startup, maka akan mempermudah serta mempercepat digital transformasi di perusahaan tersebut," jelasnya.

Mandiri sendiri tengah membangun saling bersinergi dan membantu anak-anak perusahaannya satu sama lain. Contohnya, bank Mandiri dapat menjual produknya melalui perusahaan startup yang mereka investasi di sana.

"Misalnya, ketika Mandiri Sekuritas ingin menjual obligasi retail mereka bisa menggunakan startup KoinWorks untuk penjualan obligasi ritel, serta AXA Mandiri yang dapat menjual asuransi melalui Amartha," ungkapnya.

Alamanda menambahkan, startup binaan Bank Mandiri juga dapat memanfaatkan channel yang dimiliki bank Mandiri.  Dia menilai user base Bank Mandiri yang sangat besar merupakan value added tersendiri bagi perusahaan startup untuk berkembang.

"Contohnya, ketika Bank Mandiri belum memiliki robo advisors investment, kita dapat berkolaborasi dengan startup untuk mengembangkannya. Yang kita rasakan kolaborasi antara Bank Mandiri dan startup itu saling menguntungkan satu sama lainnya,” jelas Alamanda.

Alamanda menilai pasca Covid-19, industri startup sudah jauh lebih sehat. Jika dahulu perusahaan rintisan terkenal dengan ‘bakar uang’, kini tidak marak lagi. Dahulu investor dan pemilik startup hanya memikirkan valuasi semata, kini mereka sudah memikirkan rencana bisnis dan profitabilitas dari perusahaan rintisan.

"Memang itu yang saya inginkan di industri startup. Selain kolaborasi dan sinergi, diharapkan tidak ada lagi bakar uang. Sehingga membuat perusahaan startup digital menjadi lebih sehat dan menjanjikan keuntungan. Mindset itu yang saat ini ada di Mandiri Capital," tambahnya.

Kini, Mandiri Capital sendiri tengah fokus mencari perusahaan rintisan yang mengembangkan bisnisnya ke arah sustainability dan ramah lingkungan. Misalnya, startup yang mengembangkan solar panel dan home garden dinilai Mandiri Capital memiliki potensi yang sangat bagus di masa mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp mandiri capital indonesia fintech
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top