Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsumsi Diperkirakan Mulai Naik Akhir 2020, Tapi Kredit Tetap Seret. Kenapa?

Peningkatan konsumsi tersebut diperkirakan belum akan mengerek permintaan kredit. Pasalnya, kebutuhan konsumsi dalam dua bulan terakhir ini masih dapat dipenuhi oleh pelaku usaha dengan kapasitas produksi dan inventori yang sudah dikumpulkan sejak pertengahan tahun.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 21 November 2020  |  17:38 WIB
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro menilai banyak masyarakat yang mulai meningkatkan konsumsi dan mobilitasnya sehingga masih berdampak baik pada peningkatan perekonomian akhir tahun 2020.

Meski begitu, peningkatan konsumsi tersebut diperkirakan belum mampu mengerek permintaan kredit yang sudah seret akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, kebutuhan konsumsi dalam dua bulan terakhir ini masih dapat dipenuhi oleh pelaku usaha dengan kapasitas produksi dan inventori yang sudah dikumpulkan sejak pertengahan tahun.

Adapun, untuk tahun depan, Ari Kuncoro berpendapat kebijakan BI maupun pemerintah sekaligus otoritas lainnya yang sangat akomodatif akan membantu pemulihan kinerja fungsi intermediasi. Akan tetapi dia mengatakan penanganan pandemi harus tetap memperhatikan optimisme masyarakat agar rencana konsumsi masyarakat tidak tertunda.

"Kalau masyarakat optimistis, maka pelaku usaha akan baru bisa meningkatkan kapasitas produksi dan menyerap kredit. Saya masih melihat pertumbuhan kredit bisa tetap positif sampai akhir tahun. orang sudah mulai belanja kok dan akan recover tahun depan," katanya, Jumat (20/11/2020). 

Terpisah, Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani memperkirakan pertumbuhan kredit masih akan berkisar 3% tahun depan. Namun, dia menyampaikan belanja pemerintah menjadi tumpuan bagi meningkatkan konusmsi masyarakat dan permintaan kredit dari pelaku usaha.

Oleh karena itu, Aviliani berharap pemerintah fokus tahun dengan mempertahankan belanja bantuan sosialnya guan menjaga optimisme konsumsi masyarakat.

Pemerintah juga perlu memperbaiki skema belanjanya dan cepat meningkatkan penyerapan belanja pada awal tahun depan.

"Demand side tidak bisa lagi didorong dari sisi perbankan. Pemerintah harus memperbaiki penyerapan anggaran sehingga kinerja perbankan juga akan bisa mulai terlihat pada awal tahun depan. Jika tidak, ya akan mulai menggeliat pada pertengahan tahun, seperti tren belanja pemerintah," sebutnya.

Dia mengatakan pemerintah pun perlu mendukung pembelian produk dalam negeri karena multiplier effect-nya lebih baik ketimbang barang impor.

"Barang negeri ini harusnya pemerintah yang mulai untuk menyerapnya. Dampkanya akan sampai ke UMKM yang masuk dalam rantai pasok," sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit penyaluran kredit
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top