Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Agung Bayu Purwoko & Amalia Insan Kamil

Agung Bayu Purwoko & Amalia Insan Kamil

Ekonom Ahli Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia & Analis Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia
email Lihat artikel saya lainnya

Akselerasi Merger Bank Syariah

Kepemimpinan kuat diperlukan tetapi tetap adaptif dan mau mendengar dari seluruh komponen organisasi. Kultur memang paling abstrak tetapi sangat menentukan dalam keberhasilan merger organisasi, termasuk bank syariah.
Bisnis.com - 10 Desember 2020  |  13:05 WIB
Logo Bank Syariah milik BUMN - Istimewa
Logo Bank Syariah milik BUMN - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Merger tiga bank syariah menjadi tonggak penting ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Pemerintah akhirnya menggabungkan tiga bank syariah milik BUMN paling lambat awal 2021. Bank hasil merger diperkirakan masuk top 10 bank dengan aset terbesar Indonesia.

Meski hadir sejak 1991, bank syariah belum menjadi pilihan utama masyarakat. Sumbangan aset bank syariah terhadap total aset bank nasional tidak pernah beranjak jauh dari 5%. Posisi ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara muslim lain seperti Mesir (9,5%), Pakistan (10,4%), dan Malaysia (28,2%).

Sebelumnya, masing-masing bank BUMN memiliki bank syariah. Niat awalnya ba­gus, untuk perluasan jangkau­an pasar dan akses likuidi­tas kepada bank induknya. Na­mun, kompetisi antarbank syariah tersebut ternya­ta tidak bisa mendukung ak­se­le­rasi industri. Butuh kapasi­tas yang besar untuk berlari ber­sama bank konvensional.

Tingkat literasi ekonomi dan keuangan syariah masyarakat Indonesia ternyata be­lum kuat. Indeks Literasi Eko­nomi Syariah 2019 Bank In­do­nesia menunjukkan hanya 16 dari 100 muslim In­do­nesia yang sudah mengeta­hui dan memahami (well li­te­rate) aspek pe­ngetahuan prin­s­ip dasar ekonomi syariah, keuangan sosial syariah dan produk/jasa halal.

Kondisi ini diperkuat survei Otoritas Jasa Keuangan di ma­­na ting­kat literasi keuang­an sya­riah masyarakat In­do­ne­sia yang relatif tetap sepanjang pe­riode 2016—2019. Wal­ha­sil tingkat akseptasi kon­su­men juga terlihat jalan di tempat.

Tantangan juga dihadapi di sisi perbankan.Pertama, dana mahal. Struktur deposito terhadap total dana pihak ketiga (DPK) bank syariah mencapai 51% per September 2020. Sementara itu, bank konvensional BUKU 4 hanya 34%. Mahalnya biaya dana perbankan syariah tentu berdampak pada tingkat efisiensi dan daya saing.

Implikasinya, desain produk pembiayaan jadi terba­tas. Pangsa pembiayaan meng­gu­nakan akad jual beli (mu­ra­bahah) masih mendo­mi­nasi. Dengan akad jual be­li, bank memiliki keyakinan berapa imbal hasil yang akan diperoleh. Prosesnya pun lebih sederhana. Namun, se­ring­kali tidak cocok de­ngan model bisnis UMKM dan kor­po­rasi yang membutuhkan fleksibilitas.

Minimnya diferensiasi pro­­duk ju­ga menjadikan perbank­an syariah kurang dilirik na­sabah korporasi dengan kom­plek­sitas kebutuhannya yang tinggi. Bahkan di masa pan­de­mi, rasio pembiayaan mo­dal kerja dan investasi non–UMKM perbankan sya­ri­ah per September 2020 me­nu­run dari 38,19% menjadi 34,7% (yoy). Inefisiensi perbankan akan berdampak pada kelangsungan operasionalnya pada jangka panjang.

Merger adalah perjalanan, bukan tujuan. Setidaknya ada tiga strategi yang perlu diperhatikan oleh manajemen dan pemerintah untuk mencapai quick wins merger bank syariah yaitu fokus konsumen, desain model bisnis, dan manajemen kultur.

PASAR MILENIAL

Pertama, fokus bisnis pada penciptaan value bagi milenial dan UMKM. Saat ini, pasar milenial dan UMKM justru banyak digarap oleh fintech. Pada 2020, digitalisasi menja­di salah satu penyelamat di kala pandemi. Transaksi e-commerce dan uang elektro­­nik tumbuh di atas 30%. In­ves­tasi venture capital asing pun makin banyak me­ng­alir. Pasar Indonesia me­mang sangat menarik, apa­la­gi dengan komposisi le­bih dari 50% adalah mileni­al dan usia produktif. Hal ini bisa jadi modal menurunkan cost of fund.

Kedua, kolaborasi dan kompetisi dengan dukungan tek­no­logi. Untuk mencapai jang­kau­an dan operasional yang luas, desain model bisnis bank hasil merger perlu le­bih terbuka, modular dan ra­mah terhadap perkembangan teknologi. Konsep branch­less banking dapat dipilih un­tuk mengurangi biaya over­head perbankan tetapi de­ngan tetap memperhatikan as­pek ke hati-hatian. Bank ju­ga bisa bersinergi dengan fin­tech untuk perluasan basis kon­su­men, baik untuk lending maupun funding.

Dengan fintech payment, bank bisa memperluas ba­sis DPK sehingga dapat meng­ge­ser konsentrasi dana ma­hal ber­basis deposito men­ja­di gi­ro atau tabungan. Le­bih lan­jut, bank juga bisa ko­la­bo­ra­si dengan fintech lending dan e-commerce da­lam pe­ngum­pulan DPK maupun pe­nya­luran pembiayaan UMKM de­ngan data alternatif.

Ketersediaan data granular dan teknologi juga mendorong kapabilitas bank syariah untuk mengukur risiko pembiayaan lebih baik. Ujungnya, akad pembiayaan yang ditawarkan juga lebih variatif, tidak melulu akad jual beli tapi juga akad bagi hasil. Ekosistem ekonomi dan keuangan syariah akan berkembang bukan semata-mata karena fanatisme belaka tetapi juga desain bisnis yang inovatif.

Terakhir, penyatuan kultur. Perlu kesepakatan bersama tentang kultur yang akan dibangun. Transformasi organisasi, pilihan kepemimpinan, dan consumer centric hendaknya menjadi tema utama. Kepemimpinan kuat diperlukan tetapi tetap adaptif dan mau mendengar dari seluruh komponen organisasi. Kultur memang paling abstrak tetapi sangat menentukan dalam keberhasilan merger organisasi, termasuk bank syariah.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (10/12/2020)   

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah Opini bisnis
Editor : Lukas Hendra TM

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top