Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asuransi Digital Terus Berkembang, Ini Tips Jaga Keamanan Data Pribadi bagi Nasabah

Kemudahan dari digitalisasi juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama terkait privasi data.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 04 April 2021  |  15:47 WIB
Ilustrasi - youtube
Ilustrasi - youtube

Bisnis.com, JAKARTA — Berkembangnya produk asuransi digital turut menyimpan risiko keamanan data pribadi para nasabah.

Terdapat sejumlah langkah untuk menjaga data tersebut dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Chief Digital Officer Allianz Life Mike Sutton Kini menjelaskan bahwa digitalisasi asuransi bukan hanya terjadi dalam proses bisnis, produk-produknya pun turut berkembang.

Beberapa produk yang marak ditawarkan secara digital antara lain asuransi kendaraan, rumah, kesehatan, asuransi perjalanan, hingga asuransi jiwa.

Menurutnya, perkembangan itu sejalan dengan hasil riset Swiss Re Institute, yakni 76 persen masyarakat Indonesia tertarik untuk membeli produk asuransi digital.

Platform yang paling banyak dipilih untuk mendapatkan produk asuransi itu adalah e-commerce dan fintech.

Mike menilai bahwa kemudahan dari digitalisasi juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama terkait privasi data.

Pada pertengahan 2020, 91 juta data pengguna internet diperjualbelikan melalui dark web seharga Rp73,5 juta yang berisi informasi seperti nama, alamat, dan kontak pengguna.

Hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi pengguna dalam berbagai aktivitas online yang vital seperti transaksi, termasuk membeli asuransi.

Risiko menjadi tinggi jika tidak didukung oleh peraturan dan sistem yang menunjang.

“Sejak terjadinya pandemi Covid-19, masyarakat dipaksa melek digital dan bergantung pada teknologi digital hingga berujung pada meningkatnya kejahatan siber. Dengan memiliki sertifikasi ISO 27001 menunjukkan bahwa kami telah melakukan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi informasi nasabah, mengelola risiko keamanan informasi dari ancaman siber, serta mencapai kepatuhan perlindungan informasi nasabah,” ujar Mike pada Minggu (4/4/2021) melalui keterangan resmi.

Risiko itu pun terungkap dalam survei perusahaan keamanan siber Kaspersky pada pertengahan 2020.

Hasil riset tersebut mengungkapkan bahwa 40 persen konsumen dari Asia Pasifik menghadapi insiden kebocoran data pribadi yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan.

Di Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia.

Jumlah itu meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurut Mike, upaya membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan di era digitalisasi asuransi merupakan upaya penting, salah satunya dengan menjaga keamanan data.

Dia pun memberikan sejumlah tips agar data pribadi aman dari pencurian.

Berikut tips mengamankan data pribadi dari Mike:

1. Jangan sembarangan menerima permintaan pertemanan di media sosial

Alangkah baiknya apabila Anda menggunakan fitur private pada akun media sosial Anda.

Dengan begitu, Anda dapat mengecek terlebih dahulu setiap orang yang ingin terkoneksi dengan Anda. Terlalu banyak memberikan informasi pribadi di laman profil juga sangat tidak disarankan untuk mencegah penipu mengakses informasi personal.

2. Jangan sembarang klik tautan mencurigakan.

Jika menerima pesan yang tampak mencurigakan, sebisa mungkin jangan klik tautan apapun atau membuka lampiran dalam pesan tersebut. Peretas mungkin mencuri data Anda melalui tautan tersebut.

3. Jangan gunakan password yang mudah ditebak.

Biasanya platform online menganjurkan pengguna untuk menggunakan password yang terdiri dari kombinasi huruf, angka, huruf kapital, dan simbol untuk meminimalisir password dapat ditebak dengan mudah. Selain memilih password yang tidak terlalu mudah, jangan lupa untuk mengganti password secara berkala.

4. Pastikan keamanan jaringan yang digunakan.

Terkadang masyarakat terlena dengan tersedianya jaringan WiFi publik.

Padahal, memakai jaringan WiFi publik tidak selalu aman karena sangat rentan disusupi hacker jahat yang mencuri data pribadi.

Sangat disarankan untuk tidak menggunakan WiFi publik terutama saat melakukan transaksi pembayaran atau membuka akun bank. Dan pastikan log out setelah pemakaian

5. Selalu perhatikan keamanan situs.

Pastikan situs yang Anda kunjungi dimulai dengan alamat https:// untuk menjamin keamanan situs. Pertukaran data dalam situs HTTPS terjaga dari pengubahan dan pencurian.

6. Manfaatkan penggunaan notifikasi login.

Notifikasi login berguna untuk menginformasikan jika ada pihak tak dikenal yang berusaha masuk ke akun Anda. Notifikasi ini biasanya akan dikirimkan melalui email /sms dengan menerangkan jenis gawai, lokasi, dan waktu terjadinya login.

7. Aktifkan otentikasi dua langkah

Otentikasi dua langkah merupakan langkah verifikasi tambahan untuk masuk ke akun. Salah satu otentikasi dua langkah yang paling sering digunakan adalah kode OTP yang dikirim melalui SMS atau telepon dan jangan memberikan PIN maupun kode OTP ini kepada siapapun.

8. Jangan simpan data kartu kredit di website atau akun e-commerce yang tidak kredibel.

Saat ingin mendaftarkan kartu kredit untuk pembayaran di e-commerce atau online shop, pastikan kredibilitas dari website dan perusahaan e-commerce atau online shop tersebut agar terhindar dari pembobolan kartu kredit.

Jangan lupa untuk segera menghapus data kartu kredit seperti seperti nomor kartu kredit, nama lengkap, nomor CVV sesaat setelah melakukan transaksi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi hacker e-commerce
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top