Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BTPN Syariah (BTPS) Cetak Kinerja Moncer Semester I/2021, Ini Strategi untuk Juli-Desember

Pada paruh pertama tahun ini, emiten bersandi saham BTPS itu mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar syariah tercatat tumbuh 5,56% ytd menjadi Rp10,04 triliun. Peningkatan tersebut turut mendorong perolehan laba yang tumbuh 89,32% yoy Rp769,94 miliar.
Petugas BTPN Syariah Cabang Semarang menyambut nasabah, dengan memastikan tetap mematuhi protokol kesehatan. (Bisnis/Farodlilah Muqoddam)
Petugas BTPN Syariah Cabang Semarang menyambut nasabah, dengan memastikan tetap mematuhi protokol kesehatan. (Bisnis/Farodlilah Muqoddam)

BTPN Syariah (BTPS) Cetak Kinerja Moncer di Semester I/2021. Bagaimana Proyeksi di Paruh Kedua?

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank BTPN Syariah Tbk. terus memonitor dampak kebijakan PPKM Darurat yang berlaku sejak awal Juli ini, terhadap kinerja pembiayaan perseroan di semester II/2021.

Pada paruh pertama tahun ini, emiten bersandi saham BTPS itu mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar syariah tercatat tumbuh 5,56% ytd menjadi Rp10,04 triliun. Peningkatan tersebut turut mendorong perolehan laba yang tumbuh 89,32% yoy Rp769,94 miliar.

Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad mengatakan jika melihat kondisi di lapangan, kebijakan restriksi tidak seketat tahun lalu. Namun, adanya varian virus Delta saat ini yang memiliki daya penularan lebih cepat, tidak bisa diabaikan.

"Kita tahu yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan nasabah dan karyawan. Pada Juni sebelum pemberlakuan PPKM Darurat, kita mengubah bisnis model meeting selama 2 pekan. Kita bikin model setengah grup ketemu, dan setengahnya meeting berikutnya," katanya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pengetatan dari sisi belanja operasional. Fokus perseroan saat ini adalah pengembangan bisnis dan menjaga keamanan.

Terkait prospek pembiayaan di semester II, lanjutnya, masih sulit diprediksi. Apalagi melihat kondisi di kuartal III tidak semudah seperti di semester I. Namun yang pasti, perseroan terus melakukan monitor kondisi di lapangan.

"Kami wait and see, terlalu awal [memprediksi]. Apa kondisi Juli lebih jelek dari April atau Mei. Semoga kondisi seperti ini tidak signifikan atau lebih buruk seperti tahun lalu," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Azizah Nur Alfi
Editor : Ropesta Sitorus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper