Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Neo Commerce (BBYB) Bukukan Rugi Rp132,8 miliar pada Semester I/2021

Kinerja Bank Neo Commerce berbalik rugi pada semester I/2021 sebesar RpRp132,8 miliar, dari sebelumnya mampu membukukan laba Rp19,32 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Hal itu disebabkan karena beban operasional yang meningkat tajam.
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Neo Commerce Tbk. membukukan rugi bersih Rp132,8 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan interim perseroan di keterbukaan informasi Bursa pada Minggu (29/8/2021), percetakan rugi perseroan tersebut berbalik dari periode tahun lalu yang masih mampu membukukan laba Rp19,32 miliar.

Adapun, jika menyelisik lebih dalam pendapatan bunga bersih emiten berkode BBYB ini masih tercatat naik 21,4 persen secara tahunan, dari Rp92,83 miliar menjadi Rp112,75 miliar.

Pendapatan operasional lainnya pun tercatat tumbuh positif 17,3 persen, dari Rp27,04 miliar menjadi Rp31,69 miliar. Peningkatan tersebut utamanya didapat dari bisnis komisi dan provisi.

Kendati demikian beban operasional nampaknya meningkat cukup signifikan sebesar 176 persen secara yoy menjadi Rp277 miliar pada paruh pertama tahun ini. Secara rinci, kenaikan beban operasional disumbang dari beban tenaga kerja yang naik 54,54 persen secara tahunan menjadi 60,21 miliar.

Beban administrasi dan umum naik 91,88% secara tahunan menjadi Rp85,60 miliar. Beban pemasaran bahkan terkerek 17,84 kali menjadi Rp104,76 miliar. Kerugian bersih penurunan nilai aset pun tercatat naik 2,44 kali secara tahunan menjadi Rp26,44 miliar pada tengah tahun ini.

Adapun dari sisi penyaluran kredit, Bank Neo Commerce masih mampu mencatatkan kenaikan 4,37 persen dari posisi awal tahun menjadi Rp3,82 triliun. Sementara dana pihak ketiga tercatat naik 38,55 persen menjadi Rp4,60 triliun. Dari situ, jumlah aset perseron meningkat dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp5,42 triliun menjadi Rp6,99 triliun per 30 Juni 2021. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : M. Richard
Editor : Azizah Nur Alfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper