Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos Bank Neo Commerce (BBYB) Bicara Penyebab Rugi di Semester I/2021

Penurunan laba bersih disebabkan karena transformasi untuk menjadi bank digital.
Khadijah Shahnaz
Khadijah Shahnaz - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  11:34 WIB
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp132 miliar pada semester I/2021, berbalik dari periode yang sama tahun lalu mampu mencetak laba sebesar Rp19,5 miliar.

Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menjelaskan penurunan laba bersih disebabkan karena transformasi untuk menjadi bank digital. Perseroan terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi di sisi teknologi, pengembangan sumber daya dan juga pengembangan aplikasi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk di dalamnya biaya promosi.

"Kami menilai hal ini masih sesuatu yang wajar, seluruh pengeluaran dari perusahaan selalu berdasarkan penilaian dan peninjauan yang cermat serta proyeksi jangka panjang yang matang, sehingga kami bisa membuat BNC menjadi bank digital yang didukung dengan teknologi dan keamanan yang mumpuni," ujar Tjandra dalam keterangan resmi, Senin (30/8/2021).

Salah satu faktor yang menjadi penggerak utama peningkatan biaya operasional sejak satu tahun terakhir, setelah resmi mengumumkan transformasi menjadi bank digital, adalah BNC aktif melakukan investasi khususnya di bidang teknologi dan keamanan digital yang merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus BNC bangun secara serius. Beban operasional pada paruh pertama tahun ini meningkat sangat signifikan, yaitu dari Rp76 miliar per Juni 2020 menjadi Rp 268 miliar per Juni 2021.

“Sejak awal tahun 2021, kami juga sangat serius membangun kultur perusahaan yang kredibel, luwes, dan nyaman. Dengan semangat Banking, Above and Beyond, kami ingin membangun bank digital yang lebih dari sekadar bank, tapi lebih dari itu yang tercermin melalui layanan dan produk perbankan kami yang inovatif,” ungkap Tjandra.

Sejalan dengan pengembangan menjadi bank digital, BNC juga harus membekali diri dengan talenta-talenta baru yang sesuai dengan kebutuhan perseroan yang ahli di bidangnya. Pada paruh pertama tahun ini, BNC fokus merekrut talenta-talenta yang sesuai dengan kebutuhan perseroan.

"Kami mengubah mindset kami yang sebelumnya bank konvensional selama puluhan tahun, menjadi bank digital yang luwes, adaptif, dan inovatif, dan hal tersebut harus tercermin melalui sumber daya manusia yang kami miliki,” jelas Tjandra.

BNC pada semester I/2021 menyalurkan kredit sebesar Rp3,8 triliun per Juni 2021 atau meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan Juni 2020 yang sebesar Rp 2,9 triliun. Peningkatan ini berimbas pada kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) sebesar 42 persen atau setara dengan Rp40 miliar, dari Rp 96 miliar di periode Juni 2020 menjadi Rp 136 miliar di Juni 2021.

Di sisi Aset juga terdapat kenaikan yang signifikan sebesar 75 persen, dari Rp4 triliun di Juni 2020 menjadi Rp7 triliun di Juni 2021. Kenaikan di sisi Aset tersebut juga dimotori oleh kenaikan signifikan di sisi perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK di Juni 2021 tercatat sebesar Rp5,1 triliun, meningkat sedikitnya 70 persen dibandingkan perolehan di Juni 2020 yang sebesar Rp3 triliun.

"Hal ini membuktikan bahwa BNC semakin dipercaya oleh masyarakat." ujar Tjandra

Tjandra menambahkan seiring dengan semakin majunya proses transformasi BNC menjadi bank digital di tahun 2021, maka besaran angka investasi dan pos-pos biaya tertentu juga tentunya meningkat. Investasi dalam teknologi dan keamanan digital, pengembangan sumber daya manusia dan juga biaya promosi serta akuisisi nasabah baru (user acquisition cost) menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

"Perlu dicatat, bahwa kenaikan tersebut merupakan sesuatu yang wajar, mengingat Aplikasi Digital BNC bernama neo+, sekarang ini telah diunduh sebanyak lebih dari lima juta di Google Play Store dan satu juta unduhan di Apple Store per Agustus 2021," jelas Tjandra

Dalam hal ini, BNC melalui keberadaan aplikasi digitalnya telah mencatat pertumbuhan nasabah baru dari digital (new digital user growth) yang signifikan selama beberapa bulan sejak diluncurkan di Maret 2021.

Fenomena tersebut disebabkan oleh minat masyarakat yang mulai tinggi akan bank digital dan tentunya juga besarnya animo nasabah baru akan produk dan layanan perbankan yang ditawarkan BNC.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rugi bersih bank neo commerce
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top