Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos BTPN Jelaskan Pendorong Laba Naik 32 Persen di Kuartal III/2021

Strategi Bank BTPN dalam menurunkan biaya bunga dan menjaga biaya kredit telah menghasilkan pertumbuhan laba bersih yang kuat pada Januari-September 2021 dibanding setahun lalu.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 30 Oktober 2021  |  02:00 WIB
President & CEO PT Bank BTPN Tbk. Ongki Wanadjati Dana. Bisnis - Dedi Gunawan
President & CEO PT Bank BTPN Tbk. Ongki Wanadjati Dana. Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank BTPN Tbk. (Bank BTPN) membukukan laba bersih setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,05 triliun pada periode Januari-September 2021.

Perolehan laba tersebut meningkat 32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dari Rp1,54 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Strategi perseroan dalam menurunkan biaya bunga dan menjaga biaya kredit telah menghasilkan pertumbuhan laba bersih yang kuat pada Januari-September 2021 dibanding setahun lalu.

“Bank BTPN mencatatkan hasil yang baik dari waktu ke waktu, didukung oleh kondisi ekonomi yang membaik dan optimisme masyarakat yang meningkat terhadap pemulihan ekonomi, serta strategi Bank BTPN yang mengutamakan prinsip kehati-hatian dalam beradaptasi di era new normal,” kata Direktur Utama Ongki Wanadjati Dana dikutip dari keterbukaan informas Bursa, Sabtu (30/10/2021).

Peningkatan laba bersih ini ditopang oleh beban bunga yang turun sebesar 39 persen yoy, dari Rp4,54 triliun menjadi Rp2,76 triliun. Di samping itu, biaya kredit yang 19 persen lebih rendah dari Rp1,95 triliun menjadi Rp1,59 triliun karena penyesuian metode penerapan PSAK 71. Sementara, pendapatan bunga bersih Bank BTPN naik 5 persen yoy dari Rp7,93 triliun ke Rp8,31 triliun.

Selain pendapatan bunga bersih, Bank BTPN juga mencatat kenaikan pendapatan operasional lainnya sebesar 11 persen yoy dari Rp1,31 triliun menjadi Rp1,45 triliun, yang berasal dari peningkatan pendapatan fee, salah satunya dari penjualan produk investasi.

Bank BTPN berhasil menjaga biaya operasional relatif tetap sama dengan tahun lalu, yaitu sekitar Rp5,1 triliun. Beban bunga Bank BTPN tercatat lebih rendah sejalan dengan tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan meningkatnya saldo dan rasio Current Account Saving Account (CASA). Suku bunga acuan Bank Indonesia tetap berada di level 3,50% sejak Februari 2021, setelah mengalami penurunan sejak Juli 2019.

Peningkatan saldo dan rasio CASA, serta turunnya biaya dana term deposit rupiah, juga mengakibatkan penurunan biaya dana rupiah Bank BTPN menjadi 3,5 persen pada akhir kuartal III/2021, dari 5,3 persen pada akhir kuartal III/2020.

Bank BTPN mencatat peningkatan saldo CASA sebesar 37 persen menjadi Rp35,57 triliun pada akhir September 2021, dari Rp25,95 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Rasio CASA terhadap total dana pihak ketiga juga meningkat menjadi 34 persen dari 26 persen.

Pertumbuhan CASA juga dikontribusikan oleh Digital Banking, salah satu lini bisnis Bank BTPN. Sebagai salah satu pionir dalam pengembangan layanan perbankan digital di tanah air, Bank BTPN terus meningkatkan keandalan Jenius, aplikasi life finance solution bagi para nasabah digital savvy, di tengah tantangan pandemi COVID-19. Jumlah pengguna Jenius tumbuh sebesar 22,3 persen yoy menjadi 3,51 juta dan jumlah dana pihak ketiga bertumbuh 20,5 persen yoy menjadi Rp14,66 triliun pada akhir September 2021.

Bank BTPN menyesuaikan kebutuhan dana pihak ketiga dengan kebutuhan pendanaan kredit dan kebutuhan likuiditas. Total dana pihak ketiga tumbuh sebesar 2 persen yoy menjadi Rp103,23 triliun pada akhir September 2021, dari Rp100,80 triliun.

Penyaluran kredit mengalami penurunan sebesar 7 persen yoy menjadi Rp137,66 triliun pada akhir kuartal III/2021, dari Rp148,81 triliun, sebagai dampak dari permintaan kredit yang masih belum kembali ke tingkat permintaan sebelum pandemi. Penurunan penyaluran kredit juga mengakibatkan penurunan aset sebesar 2 persen yoy menjadi Rp183,02 triliun, dari Rp186,90 triliun.

“Terlepas dari penurunan kredit secara tahun-ke-tahun, penyaluran kredit sampai dengan akhir kuartal III/2021 menunjukkan peningkatan dibandingkan angka pada akhir kuartal sebelumnya. Jumlah kredit yang diberikan naik sebesar 1,5 persen kuartal-ke-kuartal, dan ini merupakan tanda yang baik, yaitu terjadi peningkatan aktivitas masyarakat,” kata Ongki.

Bank BTPN terus menjaga kualitas kredit nasabah agar tetap berada di level yang sehat. Hal ini tercermin di rasio gross NPL yang berada di level 1,56 persen pada akhir September 2021, lebih rendah dibanding rata-rata industri yang tercatat sebesar 3,35 persen pada akhir Agustus 2021.

Selain dana pihak ketiga, Bank BTPN memiliki sumber pendanaan yang terdiversifikasi termasuk fasilitas pinjaman dari SMBC. Rasio likuiditas dan pendanaan berada di tingkat yang sehat, dengan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 224,7 persen dan net stable funding ratio (NSFR) 114,7 persen pada posisi 30 September 2021. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berada di tingkat yang kuat di 25,6 persen. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btpn laba bank
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top