Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sebelum jadi Pendana & Peminjam di Fintech P2P Lending, Perhatikan Hal Ini!

Masyarakat, baik dari sisi calon pendana maupun calon peminjam, diharapkan memperhatikan setidaknya 6 hal ini secara saksama, dengan harapan bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Desember 2021  |  18:23 WIB
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Sebelum menjadi pengguna platform teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending, baik sebagai pendana (lender) maupun peminjam (borrower), masyarakat harus memastikan beberapa hal. 

Anisa Aprilia, Certified Financial Planner, memberikan tips buat calon pendana dan calon peminjam untuk memperhatikan setidaknya 6 hal secara saksama, dengan harapan bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 

"Sebelum masuk ke tips buat masing-masing, pertama harus otomatis lihat dulu bagaimana legalitas platform terkait. Wajib pastikan dulu platform berizin Otoritas Jasa Keuangan [OJK]," ujarnya dalam diskusi terbatas bersama media dan pemain P2P lending klaster produktif PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), dikutip Selasa (28/12/2021).

Pertama, bagi calon pendana, Anisa mengungkap pentingnya masyarakat melihat kinerja tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) platform terkait. 

"TKB90 itu salah satu indikator suatu platform menjaga kualitas pinjaman yang diberikan para borrower, yang kalau telat pun selambat-lambatnya kembali setelah 90 hari. Platform yang baik pasti bisa menjaga persentase TKB90 minimal 90 persen," jelasnya. 

Kedua, calon pendana bisa mencermati cara platform melakukan credit scoring dan sesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Hal ini berhubungan juga dengan tips ketiga, yaitu selalu membaca dengan cermat informasi borrower yang ditawarkan, bagaimana latar belakang borrower, apa tujuan pinjamannya, dan lain sebagainya. 

Keempat, disarankan memberikan pinjaman produktif alias memberikan pendanaan buat UMKM. Kelima, pertimbangkan minimal investasi dan jangka waktu. Terakhir, platform yang baik biasanya memiliki program khusus sebagai nilai tambah untuk ikut memajukan borrower. 

"Misalnya, Amartha itu kan punya program pendampingan buat borrower ibu-ibu pelaku usaha mikro, ya, seperti pelatihan berbisnis, manajemen usaha, sampai pengelolaan keuangan. Ini jadi nilai tambah, karena artinya platform ikut membantu borrower semakin maju, yang otomatis membuat mereka lebih lancar dalam mengembalikan pinjaman," jelasnya. 

Adapun, buat calon peminjam, dua hal yang paling penting, yaitu pahami proses pinjaman, bunga, tenggat waktu, dan denda, serta baca dengan cermat kontrak perjanjian yang diberikan. 

Selanjutnya, pastikan platform tidak membebani dengan bunga tinggi atau melebihi ketentuan. Selain itu, platform P2P lending yang baik juga bisa dilihat dari apakah mereka memiliki layanan keluhan pelanggan yang cepat, mudah, dan transparan. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech Teknologi Finansial P2P lending Pinjaman Online
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top