Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wamen BUMN Buka-bukaan Rencana Aksi Korporasi BSI (BRIS) Tahun Ini

Selain rights issue, BSI (BRIS) memiliki sejumlah rencana aksi korporasi lainnya tahun ini.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 19 Mei 2022  |  12:09 WIB
Karyawati Bank Syariah Indonesia melayani nasabah di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati Bank Syariah Indonesia melayani nasabah di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian BUMN akan mendorong beberapa aksi korporasi dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS) untuk memperkuat kinerja bisnis perseroan. Salah satunya melalui aksi penambahan modal melalui mekanisme rights issue.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (19/5/2022), Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan saat ini pemerintah sedang membahas struktur kepemilikan dari BSI. Sebagaimana diketahui, pemerintah memiliki rencana untuk menyuntik saham Seri A Dwiwarna pada BSI. 

Pria yang akrab disapa Tiko ini menuturkan BSI akan didorong untuk melakukan aksi korporasi guna memperkuat kinerja perseroan, salah satunya dengan melakukan rights issue senilai Rp5 triliun yang rencananya berlangsung pada kuartal III/2022. 

“Nantinya, Bank Mandiri akan meningkatkan kepemilikan jadi super majority. Di satu sisi juga pemerintah sudah bicara di media akan memberikan saham merah putih kepada BSI. Jadi, selain anak usaha dari Bank Mandiri, BSI memang jadi anak BUMN yang memiliki saham merah putih,” ujar Tiko. 

Mengutip laman resmi BSI, komposisi pemegang saham perseroan saat ini adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), sebesar 50,95 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) 24,91 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 17,29 persen. 

Sisanya, adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI sekitar 1,83 persen, BNI Life Insurance 0,01 persen, serta pemegang saham lain dengan kepemilikan kurang dari 5 persen termasuk publik baru sekitar 7,08 persen. 

Tiko menekankan bahwa terkait dengan perubahan struktur kepemilikan saham akan dilakukan setelah BSI melaksanakan rights issue. Setelah itu, lanjut Tiko, bakal ada aksi korporasi lanjutan untuk mencari mitra global bagi BSI yakni melalui akuisisi atau joint venture, di antaranya ke arah digital untuk melengkapi produk dan layanan bagi nasabah. 

“Di sini [Dubai] kami juga mancari global partner yang akan masuk secara strategic untuk membantu juga mempercepat akses global syariah bank dari BSI. Ini jadi agenda tapi belum bisa kita sampaikan lebih rinci karena BSI public company. Tapi langkahnya seperti itu,” kata Tiko. 

Pada 13 Mei 2022, BSI resmi membuka representative office BSI di Dubai, Uni Emirat Arab sebagai realisasi program BUMN Go Global. 

Tiko mengatakan hal tersebut merupakan langkah awal menghubungkan perbankan dan keuangan Indonesia dengan pusat-pusat keuangan syariah dunia, serta memperdalam penetrasi ekspor ke Afrika dan negara-negara Arab. 

BSI juga diharapkan mampu mengoptimalkan potensi bisnis di Dubai dengan menjadi jembatan penghubung antara Indonesia dan investor global untuk menginvestasikan dana pada proyek-proyek pemerintah, seperti Ibukota Negara Baru (IKN) serta proyek strategis BUMN. 

Di sisi lain, sederet aksi korporasi ini tidak terlepas dari upaya mewujudkan visi BSI menjadi Top 10 Global Islamic Bank berdasarkan kapitalisasi pasar pada 2025. Perseroan pun diharapkan menjadi instrumen utama Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah BUMN rights issue Bank Syariah Indonesia
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top