Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Batu Bara Hingga CPO Tinggi, Asuransi Marine Cargo & Hull Mampu Mengail Cuan

Asuransi Cargo dan Marine Hull terdongkrang melonjaknya ekspor batu bara dan komoditas lain dari Indonesia.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  18:27 WIB
Warga memancing ikan di sekitar kapal tongkang pengangkut batu bara di perairan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Aji Styawan
Warga memancing ikan di sekitar kapal tongkang pengangkut batu bara di perairan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA - Tingginya harga komoditas seperti batu bara hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan masih akan memberikan dampak positif terhadap asuransi pengangkutan (marine cargo) dan rangka kapal (marine hull).

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Hastanto Sri Margi Widodo mengatakan, besaran premi asuransi marine cargo salah satunya dipengaruhi oleh harga barang atau komoditas yang diangkut. Oleh karena itu, tingginya harga batu bara juga berpengaruh terhadap kenaikan premi asuransi marine cargo.

"Asuransi berdasarkan harga barang tersebut. Jadi kalau batu baranya naik, satu barge [tongkang] preminya juga akan lebih tinggi," ujar Widodo kepada Bisnis, dikutip Senin (23/5/2022).

Lebih lanjut, menurutnya, kenaikan harga komoditas juga berpotensi membuat biaya freight atau ongkos angkut ikut naik. Kenaikan biaya freight ini berpeluang mendorong bertambahnya pembangunan kapal (shipbuilding) baru, sehingga asuransi marine hull juga berpeluang meningkat.

Terkait potensi meningkatnya permintaan ekspor batu bara Indonesia akibat larangan impor komoditas tersebut dari Rusia oleh Uni Eropa, Widodo menilai hal tersebut belum tentu berpengaruh terhadap peningkatan bisnis asuransi marine cargo. Hal ini karena kegiatan ekspor Indonesia tidak selalu menggunakan asuransi dalam negeri, bergantung pada tipe transaksi yakni apakah menggunakan FOB (freight on board) atau CIF (cost, insurance, and freight).

Menurut dia, bila eksportir Indonesia menggunakan transaksi CIF, bisnis asuransi marine cargo berpeluang meningkat. Adapun, yang dimaksud dengan CIF ini, yakni penjual bertanggungjawab terhadap biaya pengiriman barang dan asuransinya sampai tempat pembeli.

"Kalau CIF dan tradernya di Indonesia, maka eskpor akan termasuk pada marine cargonya," katanya.

Di sisi lain, Widodo yang juga merupakan Presiden Direktur PT Asuransi Bintang Tbk. (ASBI) menuturkan bahwa kenaikan harga komoditas batu bara juga mendorong peningkatan bisnis asuransi alat berat pada tahun lalu. Kenaikan pada lini bisnis tersebut, serta kenaikan pada lini marine cargo dan marine hull pun mendorong pertumbuhan premi bruto ASBI 5,4 persen yoy sepanjang 2021.

Namun demikian, dia memperkirakan masih tingginya harga batu baru saat ini tidak akan terlalu berpengaruh lagi terhadap bisnis asuransi alat berat pada tahun ini.

"Ini sudah happening pada 2021, selama tidak terdapat penambahan tambang-tambang baru saya rasa euforianya sudah selesai untuk heavy equipment. Tapi mungkin masih akan berdampak pada cargo dan hull karena terkait dengan peningkatan komoditas tersebut," katanya.

Berdasarkan data AAUI, premi dicatat industri asuransi umum untuk lini bisnis asuransi marine cargo sepanjang 2021 mencapai Rp4,11 triliun. Angka ini meningkat 26,5 persen yoy dibandingkan realisasi pada 2020 yang mencapai Rp3,25 triliun.

Sedangkan premi dicatat asuransi marine hull mengalami kenaikan 7,1 persen yoy menjadi Rp2,04 triliun, dari sebelumnya Rp1,9 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara harga cpo asuransi umum harga sawit
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top