Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Membaik, Bos LPS: Kondisi Perbankan Kuat

Industri perbankan terus menunjukkan performa yang sangat meyakinkan, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  09:58 WIB
Ekonomi Membaik, Bos LPS: Kondisi Perbankan Kuat
Karyawati beraktivitas di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Senin (9/5/2022). - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan industri perbankan terus menunjukkan performa yang sangat meyakinkan, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian. 

Purbaya mengatakan permodalan perbankan selama pandemi hingga saat ini masih solid dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) per April 2022 mencapai 24,32 persen.

Selain itu, rasio gross NPL juga terus menunjukkan perbaikan dari kondisi di masa pandemi yang sempat mengalami kenaikan di atas 3 persen. Kini, rasio gross NPL berada di level 3,00 persen per April 2022.

“Hal ini didukung oleh permodalan yang solid dan likuiditas yang ample. Per April 2022, dana pihak ketiga [DPK] tumbuh sebesar 10,11 persen yoy dan kredit tumbuh sebesar 9,10 persen yoy,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6/2022). 

Purbaya menyampaikan kondisi fundamental perbankan yang kuat tersebut tidak lepas dari sinergi KSSK dalam menciptakan bauran kebijakan yang menjaga industri perbankan tetap stabil. 

Adapun sejak 15 bulan terakhir, Purbaya mengungkapkan suku bunga maupun suku kredit mengalami tren penurunan. Dia menjelaskan suku bunga deposito 1 dan 3 bulan terpantau masih mengalami penurunanmeskipun penurunannya semakin melambat. 

Menurutnya, penurunan itu turut berkontribusi dalam penurunan cost of fund perbankan, sehingga mendukung penurunan suku bunga kredit. Tren penurunan tingkat bunga penjaminan ini sejalan dengan tren penurunan suku bunga acuan bank sentral.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara, lanjut Purbaya, suku bunga kredit di Indonesia masih merupakan yang tertinggi. Hal ini mengindikasikan adanya ruang untuk perbaikan struktur perbankan di Indonesia agar dapat beroperasi dengan lebih efisien.

Dalam kebijakannya, LPS terus bersinergi dengan bank sentral selaku otoritas kebijakan moneter untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Perkembangan likuiditas yang tetap longgar memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk mengelola biaya dana atau suku bunga simpanan di level yang rendah,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan lps modal inti
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top