Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Acuan BI7DRR 3,5 Persen, Bos BI Beberkan Risiko Ketidakpastian Global

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI7DRR 3,5 Persen meski ada ruang risiko perlambatan ekonomi global akibat stagflasi
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 23 Juni 2022  |  14:47 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa perekonomian global saat ini diwarnai dengan ancaman lonjakan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini terutama disebabkan masih berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina, disertai dengan pengenaan sanksi yang meluas.

Di samping itu, kebijakan Zero Covid di China untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dinilai turut menahan perbaikan gangguan rantai pasok global.

Kondisi ini pun disertai dengan kebijakan proteksionisme, terutama pangan oleh berbagai negara sehingga mendorong tingginya harga komoditas global yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global.

Lebih lanjut, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) telah merespon kenaikan inflasi dengan kebijakan pengetatan moneter yang lebih agresif. Pada bulan ini, the Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin dan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara itu.

“Sehingga menahan pertumbuhan ekonomi global dan menimbulkan risiko stagflasi,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (23/6/2022).

Perry memperkirakan, pertumbuhan ekonomi AS, Eropa, China, Jepang, dan India akan mencapai tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.

Volume perdagangan dunia juga diperkirakan lebih rendah. Sejumlah kondisi ini berdampak pada ketidakpastian pasar keuangan global, yang akhirnya menghambat aliran masuk modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski risiko stagflasi meningkat, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen. Pertimbangan yang diambil oleh bank sentral, terutama kondisi Indonesia yang masih terjaga. Baik dari sisi defisit neraca perdagangan, masih tersedianya ruang kredit hingga masih diuntungkannya Indonesia dengan harga komoditas. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia perbankan suku bunga acuan Stagflasi
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top