Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dua Sektor Ini Bikin Industri Leasing Ekspansif, Potensi Tumbuh Makin Nyata

Ada dua sektor yang akan membuat perusahaan pembiayaan atau leasing tumbuh pada tahun ini.
Potensi pertumbuhan perusahaan leasing semakin nyata seiring dengan potensi penyaluran pembiayaan dari dua sektor. /Bisnis-Dedi Gunawan
Potensi pertumbuhan perusahaan leasing semakin nyata seiring dengan potensi penyaluran pembiayaan dari dua sektor. /Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Proyeksi Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) terkait pertumbuhan piutang pembiayaan industri masih belum berubah, seiring kondisi mayoritas pemain yang mulai berani berekspansi.

Ketua APPI Suwandi Wiratno mengungkap optimisme masih terjaga, karena sentimen positif dari beberapa sektor yang berpengaruh signifikan buat industri multifinance mulai semakin terasa.

Sebagai pengingat, pada akhir tahun lalu piutang pembiayaan neto industri senilai Rp364,23 triliun masih terkontraksi 1,49 persen (year-on-year/yoy) ketimbang Desember 2020 senilai Rp369,75 triliun. Masih melanjutkan tren penurunan nilai piutang bersih pada era pandemi, yang ketika itu minus 18,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sepanjang tahun berjalan, nominal piutang bersih industri multifinance sudah berada dalam jalur pertumbuhan, tepatnya mencapai 4,6 persen yoy menjadi Rp381,6 triliun berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2022.

"Sampai sekarang masih seperti proyeksi awal. Paling optimistis tumbuh 12 persen seperti proyeksi OJK, proyeksi moderat di atas 8 persen, dan paling minimal 6-8 persen. Setelah dua tahun industri terkoreksi karena pandemi, tahun ini terbilang lancar, belum ada kondisi yang berpotensi menyebabkan koreksi lagi," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, dikutip Kamis (23/6/2022).

Menurut Suwandi, sektor pertambangan dan otomotif masih menjadi penyumbang sentimen positif terbesar buat industri. Berdasarkan objek pembiayaan, kondisi tersebut akhirnya berpengaruh terhadap peningkatan piutang alat berat dan kendaraan roda empat.

Bahkan, sentimen positif dari kedua sektor tersebut sebenarnya telah tampak sejak akhir tahun lalu. Koreksi tipis pada tutup tahun, sebenarnya terjadi karena beberapa pemain masih belum berani berekspansi. Beda dengan periode 2020, di mana penurunan karena banyak debitur lepas pembiayaan akibat terdampak pandemi.

"Saat ini kebutuhan pembiayaan alat berat sangat besar, bahkan meningkat terus, terutama buat aktivitas pertambangan. Walaupun sisi suplai alat berat juga terpengaruh akibat krisis cip, tapi tidak separah otomotif. Adapun, pembiayaan ke sektor otomotif buat multifinance juga terus membaik, tapi tumbuhnya lebih pelan karena keterbatasan unit itu tadi," tambahnya.

Salah satu indikator yang bisa menggambarkan keberanian para pelaku industri untuk mulai berekspansi, yaitu gearing ratio (GR) alias jumlah pinjaman buat sumber pendanaan operasional, dibandingkan modal sendiri perusahaan pembiayaan. Berdasarkan ketentuan OJK, maksimal GR mencapai 10 kali buat tiap perusahaan.

Pada periode normal sebelum pandemi Covid-19, besaran GR industri pembiayaan bisa mencapai 2,8 kali. Pandemi membuat perusahaan pembiayaan urung mengambil pinjaman baru karena belum berani berekspansi, membuat GR terus menurun sampai hanya 1,9 kali pada kisaran awal tahun ini.

Terkini, GR industri pembiayaan dipercaya telah kembali dalam tren peningkatan, karena telah kembali menyentuh 2.01 kali per April 2022. APPI melihat tren besaran GR ke depan hanya akan naik tipis secara perlahan.

Sebab, masih ada segelintir multifinance yang masih wait n see untuk jorjoran merealisasi pembiayaan baru, atau belum memprioritaskan mengambil pinjaman baru secara signifikan, terutama multifinance yang masih memiliki likuiditas jumbo.

"Perusahaan pembiayaan diperbolehkan menarik pinjaman sampai 10 kali dari modal, jadi GR di kisaran 2 kali itu justru normal. Apakah semua pemain sudah berani berekspansi itu juga relatif. Ada pemain yang bisa bertahan tanpa pinjaman karena masih punya uang kas banyak, tapi ada juga pemain yang memang belum kebagian akses pendanaan sesuai kebutuhannya," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper