Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Milenial, Ini Beda Investasi Buat Simpan Dana Darurat dan Persiapan Pensiun

Milenial bisa memanfaatkan beberapa instrumen investasi untuk menyimpan dana darurat, bahkan dana persiapan pensiun, dengan catatan memilih karakteristik yang sesuai kebutuhan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 02 Juli 2022  |  18:33 WIB
Milenial, Ini Beda Investasi Buat Simpan Dana Darurat dan Persiapan Pensiun
Ilustrasi menabung dana darurat - Freepik.com

Bisnis.com, JAKARTA – Generasi milenial disarankan memanfaatkan beberapa instrumen investasi sesuai piramida perencanaan keuangan terkait dengan manajemen dana darurat dan dana pensiun.

Dalam mempersiapkan ketahanan finansial, mereka bisa memilih karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan.

Certified Financial Planner Anisa Aprilia menjelaskan piramida perencanaan keuangan memiliki urutan yang ideal secara berturut-turut, yaitu memenuhi dana darurat terlebih dahulu, lalu manajemen risiko atau asuransi, baru kemudian investasi dan dana pensiun.

"Banyak milenial yang bertanya apakah dana darurat itu boleh masuk instrumen investasi. Sebenarnya boleh, tapi karena tujuannya untuk dipakai di saat genting, seperti ketika terkena PHK atau terlibat kecelakaan, artinya harus memilih instrumen investasi yang benar-benar likuid atau bisa dicairkan dengan cepat," ujarnya ketika ditemui Bisnis beberapa waktu lalu, dikutip Sabtu (2/7/2022).

Untuk menyimpan dana darurat senilai minimal enam kali pengeluaran bulanan ini, Ica menyarankan milenial memilih instrumen seperti deposito yang punya fitur tanpa penalti apabila dicairkan di tengah periode, atau maksimal reksa dana pasar uang yang bisa dicairkan dalam tiga hari kerja.

Hindari instrumen yang kurang likuid dan berisiko tinggi, seperti aset berbasis saham, emas fisik, surat utang korporasi dan beberapa jenis surat utang negara yang tidak likuid, reksa dana yang membutuhkan waktu sampai tujuh hari ketika dicairkan, apalagi aset yang risikonya terlampau tinggi seperti kripto.

Namun, di sisi lain, hindari pula menyimpan dana darurat dalam tabungan yang terlalu mudah diambil, demi menghindari godaan untuk memakainya dalam keadaan yang tidak terlalu mendesak.

"Jadi kalau milenial tetap ingin dana daruratnya punya pertumbuhan nilai yang lumayan, caranya bisa juga dibagi dua. Separuh ditaruh tabungan biasa, separuhnya lagi di instrumen yang bisa dicairkan maksimal dalam jangka waktu 3 hari saja ketika dibutuhkan. Jangan taruh ke instrumen investasi yang terlalu berisiko, karena takutnya nilainya sedang turun ketika kita sedang butuh," tambah Ica.

Menurut Ica, milenial yang sudah memiliki kapasitas untuk berinvestasi, tak ada salahnya mempersiapkan dana persiapan pensiun sejak dini. Instrumen investasi yang jadi pilihan bisa berkebalikan dengan instrumen yang dipakai untuk menyimpan dana darurat.

"Setelah dana darurat terkumpul, investasi itu bisa difokuskan ke tujuan keuangan, seperti beli rumah atau kendaraan, atau mengejar punya passive income. Jadi wajar kalau fokusnya ke return. Tapi kalau misalnya belum ada tujuan tertentu tapi mau belajar investasi ke instrumen jangka panjang dan lumayan berisiko, niatkan saja untuk dana persiapan pensiun," jelasnya.

Ica menyebut milenial bisa mulai belajar berinvestasi lewat memasukkan dana darurat atau dana persiapan pensiunnya ke beberapa instrumen di atas, dengan catatan porsinya hanya sekitar 10 persen dari pendapatan bulanan.

Milenial harus belajar bijak, jangan terlalu bernafsu dan memaksakan diri buat berinvestasi demi memperoleh keuntungan semata, apalagi hanya karena fear of missing out alias FOMO, atau takut disebut kurang update oleh rekan sejawat hanya karena belum memiliki instrumen investasi tertentu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi manajemen keuangan dana darurat tips investasi generasi milenial
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top