Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BTN Ungkap Alasan Kenapa Efek Beragun Aset KPR Belum Dilirik Investor

Penerbitan EBA alias sekuritisasi belum populer di Tanah Air karena masih ada tantangan dari dua sisi. Baik dari sisi perbankan selaku penerbit, maupun dari sisi investor.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 07 Juli 2022  |  23:24 WIB
BTN Ungkap Alasan Kenapa Efek Beragun Aset KPR Belum Dilirik Investor
Pekerja sedang menggarap proyek perumahan yang dibiayai oleh BTN. - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) atau BTN mengungkap alasan kenapa instrumen Efek Beragun Aset (EBA) atas portofolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih belum banyak dilirik investor.

Sebagai informasi, aktivitas penerbitan EBA alias sekuritisasi merupakan cara suatu perbankan mencairkan portofolio KPR miliknya sebagai sumber pendanaan, sehingga arus kas lebih terjaga dan bisa menjadi sumber dana buat aktivitas pembiayaan KPR baru.

BTN tercatat senior dalam penerbitan EBA atas portofolio KPR miliknya, di mana telah terealisasi 13 kali penerbitan sejak 2009 sampai 2020 dengan nominal secara kumulatif mencapai Rp12,2 triliun.

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo menjelaskan bahwa penerbitan EBA merupakan salah satu langkah diverifikasi sumber pendanaan, sekaligus upaya pihaknya menghidupkan pasar sekuritisasi di Indonesia.

"Kami sampai sekarang masih menjadi bank paling aktif dalam sekuritisasi aset KPR di Indonesia. Sejak 2009, kami selalu menerbitkan setiap tahun dan tidak pernah putus, tapi kemarin terhenti pada era pandemi. BTN berencana menerbitkan lagi pada 2022 ini," ujarnya dalam Securitization Summit 2022, Kamis (7/7/2022).

Haru mengakui sekuritisasi belum populer di Tanah Air karena masih ada tantangan dari dua sisi. Baik dari sisi perbankan selaku penerbit, maupun dari sisi investor.

"Bagi bank, portofolio KPR yang bisa jadi aset sekuritisasi terbatas. Sementara investor belum banyak, karena belum familiar dengan instrumen ini. Selain itu, EBA juga terbilang kurang likuid, belum banyak transaksi jual-beli di pasar sekunder. Makanya, kebanyakan investor yang pegang itu hanya menunggu sampai jatuh tempo," ujarnya.

Oleh sebab itu, BTN melihat perlu adanya insentif dan beberapa penyesuaian regulasi dari para pemangku kepentingan demi menggairahkan pasar sekuritisasi di Indonesia.

Pertama, insentif pajak terkait penerbitan EBA, karena masih ditemukan pengenaan pajak ganda. Kedua, adanya aturan pengelompokan underlying portofolio KPR secara bertingkat, di mana sekuritisasi memungkinkan jenis portofolio KPR yang risikonya lebih tinggi, namun diimbangi dengan semakin tinggi pula imbal hasilnya buat investor.

Selain itu, Haru juga melihat perlu ada insentif yang memungkinkan perbankan turut menjadi investor EBA dengan porsi besar, serta memungkinkan EBA berpengaruh terhadap perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) bagi bank yang membelinya.

"Karena EBA aset KPR belum masuk perhitungan LDR, jadi bank yang membeli EBA tidak dianggap memberikan pinjaman. Padahal, bank penerbit EBA itu sama saja melepas portofolio KPR miliknya secara penuh. Alhasil, kalau EBA bisa menjadi komponen LDR, bank-bank pasti lebih bergairah menjadi investor," jelasnya.

BTN pun tertarik kembali menerbitkan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), seiring kinerja portofolio KPR miliknya yang bertumbuh dengan cepat.

Saat ini, outstanding KPR emiten berkode BBTN ini mencapai Rp218 triliun, terbagi KPR subsidi Rp134 triliun dan KPR komersil atau nonsubsidi Rp84 triliun. Capaian ini tercatat mengambil pangsa pasar 37 persen dari outstanding KPR nasional sekitar Rp584 triliun.

Adapun, penyaluran KPR subsidi BTN pada kuartal I/2022 mencapai Rp5,59 triliun, berada dalam tren terus naik dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) mencapai 23,66 persen.

Sebagai perbandingan, pada kuartal I/2020 nilai penyaluran KPR subsidi BTN senilai Rp3,65 triliun, sementara pada kuartal I/2021 mencapai Rp4,17 triliun.

Sementara itu, penyaluran KPR nonsubsidi BTN hingga kuartal I/2022 senilai Rp2,8 triliun dan tercatat memiliki CAGR hingga 38,42 persen. Penyaluran KPR nonsubsidi BTN pada kuartal I/2020 tercatat hanya Rp1,46 triliun, sementara pada kuartal I/2021 mencapai Rp1,93 triliun.

"Kontribusi penyaluran kredit perumahan BTN mencapai 38,7 persen terhadap total KPR seluruh perbankan. Kalau bicara khusus KPR subsidi, porsi kami bahkan mencapai 85 persen. Belum lagi kalau khusus segmen unit rumah menengah ke bawah, porsi kami lebih besar lagi," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank bumn btn efek beragun aset kpr
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top