Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Tembus Level 7.000, Begini Prospek Harga Saham Bank Digital (ARTO, BBYB, & BANK)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke level di atas 7.000 di tengah musim laporan kinerja semester I/2022.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  14:15 WIB
IHSG Tembus Level 7.000, Begini Prospek Harga Saham Bank Digital (ARTO, BBYB, & BANK)
Karyawati melayani nasabah di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Selasa (19/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Sebanyak enam bank yang mendeklarasikan dirinya sebagai perbankan digital telah merilis kinerja keuangan paruh pertama tahun 2022. Beberapa di antara mereka mampu membukukan laba, namun sebagian juga masih harus merugi.

Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, tiga dari enam emiten bank digital mampu meraup cuan di semester I/2022. Sementara sisanya, mencatatkan rugi hingga akhir Juni 2022.

Ketiga bank digital tersebut adalah PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI), PT Bank Jago Tbk. (ARTO), dan PT Bank SeaBank Indonesia membukukan laba bersih tahun berjalan di semester I/2022.

Secara terperinci, emiten bank digital milik taipan Chairul Tanjung alias CT merupakan bank digital mampu meraup cuan lebih tinggi dibandingkan dengan ARTO dan SeaBank.

Emiten bersandi saham BBHI itu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 556,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Artinya, mampu mengantongi laba senilai Rp150,62 miliar, dari sebelumnya mencetak Rp22,9 miliar pada Juni 2021.

Menyusul di belakangnya, yakni ARTO dengan perolehan laba bersih Rp28,92 miliar. Bank digital milik Jerry Ng ini berbalik untung dari periode tahun lalu, di mana Bank Jago masih merugi Rp46,77 miliar.

Di posisi ketiga, perusahaan yang terafiliasi Shopee, yakni SeaBank meraih laba bersih sebesar Rp5,97 miliar pada posisi 30 Juni 2022. Kinerja perseroan juga berbalik untung, di mana pada Juni 2021, SeaBank menderita rugi sebesar Rp231,85 miliar.

Lantas, bagaimana prospek harga saham bank digital saat indeks harga  saham gabungan (IHSG) kembali menembus harga psikologis 7.000? Analis pasar modal melihat setidaknya ada 3 bank digital yang memiliki prospek saham yang menguat.

Praktisi Pasar Modal dari ORBIT multi asset trading signal Lucky Bayu Purnomo menyampaikan emiten yang mimiliki prospek tercermin dari kapitalisasi pasar (market capitalization/market cap), lainnya dari sisi frekuensi transaksi yang tinggi atau dominan di ketiga bank digital yang dimaksud.

“Jadi, alasannya [prospek harga saham naik] karena frekuensi transaksi,” kata Lucky kepada Bisnis, Rabu (3/8/2022).

Menurutnya peluang itu ada seperti pertama di Bank Jago (ARTO). Lucky melihat bank dengan sandi saham ARTO memiliki prospek yang menguat, tercermin dari angka penutupan perdagangan kemarin, yakni di harga Rp11.000.

“Bank Jago memiliki potensi menguat atau menuju level yang terdekat di harga Rp15.000,” paparnya.

Kedua, Bank Aladin Syariah (BANK). Emiten bank digital yang dinahkodai oleh Dyota Marsudi ini menutup harga di level Rp1.935 pada perdagangan Rabu (3/8/2022). Menurut Lucky, BANK memiliki target menguat di level Rp2.500.

Selanjutnya, bank digital Allo Bank (BBHI) juga memiliki prospek yang menguat. Itu tercermin dari penutupan perdagangan Rp3.620, menguat untuk menuju ke level harga Rp4.200.

Seperti disebutkan di awal, ada 3 bank digital yang masih membukukan rugi di semester I/2022. Melihat hal itu, Lucky menilai kerugian yang dimiliki bank digital merupakan proses dari pelaksanaan bank digital secara berkelanjutan, di mana mereka membutuhkan dorongan dari bisnis konvensional.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengungkapkan bahwa secara fundamental, prospek harga saham bank digital masih kalah menarik dibandingkan bank-bank besar. Menurut Budi, bank digital belum menyalurkan kredit dalam jumlah besar seperti bank-bank konvensional.

Selain itu, lanjut Budi, biaya bunga yang dibayarkan juga masih tinggi karena belum mengandalkan dana murah (current account saving account/CASA) berupa giro dan tabungan, sehingga biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) berada di atas bank konvensional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham Bank Digital
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top