Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Rasio Dividen BBRI, BBNI, dan BMRI, yang Siap Ditebar Tahun Depan

BRI (BBRI), BNI (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI) telah mengumumkan rasio dividen untuk tahun buku 2022.
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Tiga bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara siap menebar dividen jumbo untuk tahun buku 2022.

Ketiga bank itu adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BBNI. Komitmen ini seiring kepercayaan diri bank dalam mendulang laba sepanjang 2022.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan kebijakan dividend payout ratio untuk tahun buku 2022, yang dibagikan pada tahun depan, bakal berada di rentang 45– 60 persen. Komposisi ini merupakan kisaran pembayaran dividen BMRI dalam 5 tahun terakhir.

“Dengan kinerja tahun 2022, range tersebut dapat kami jaga dan kami optimistis angka tersebut adalah angka yang optimal, sehingga bisa memenuhi harapan dari pemegang saham,” ujar Sigit dalam Public Expose Live 2022, Kamis (15/9/2022).

Dia menyatakan bahwa sepanjang tahun lalu, Bank Mandiri membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar 60 persen dari total laba bersih senilai Rp28,03 triliun. Adapun hingga semester I/2022, perseroan telah meraup laba sebesar Rp20,2 triliun.

Dengan capaian sementara itu, Sigit menyatakan bahwa perseroan ingin memberikan kontribusi dividen yang baik kepada pemegang saham. Meski demikian, Bank Mandiri juga ingin mencapai keseimbangan antara dividen yang baik dengan pertumbuhan berkelanjutan dari perusahaan.

“Beberapa hal yang menjadi pertimbangan terkait dengan dividend payout ratio, tentu kami melihat dari kepentingan pemegang saham dan juga kepentingan dari pertumbuhan Bank Mandiri itu sendiri karena kami ingin adanya suatu keseimbangan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin meyakini kinerja perseroan sepanjang tahun ini akan berjalan lebih baik. Hal ini tecermin dari realisasi pertumbuhan kredit perseroan hingga akhir Juni 2022.

Pada kuartal II/2022, kredit Bank Mandiri secara konsolidasi tembus Rp1.138,31 triliun atau tumbuh 12,22 persen year-on-year (yoy). Realisasi ini didorong oleh moncernya penyaluran kredit korporasi yang naik 10,6 persen yoy menjadi Rp409 triliun pada akhir Juni 2022.

“Melihat kinerja yang membaik, kami optimis pertumbuhan kredit Bank Mandiri mampu tumbuh di atas 11 persen sampai dengan akhir tahun dengan kualitas aset yang terjaga optimal,” ujarnya.

Adapun pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong pertumbuhan total aset Bank Mandiri secara konsolidasi menjadi Rp 1.786 triliun atau meningkat 13 persen secara tahunan.

Rasio Dividen BRI dan BNI

Sementara itu, di deretan bank pelat meraih lain, BRI berkomitmen menebar rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio di atas 70 persen dari laba bersih perseroan dalam kurun empat tahun ke depan.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan hal tersebut dikarenakan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dari emiten bank bersandi saham BBRI ini cukup kuat berada di level sekitar 25 persen, naik 20 persen secara tahunan.

Oleh karena itu, Sunarso menyatakan berapa pun laba yang diperoleh BBRI selama 2–4 tahun ke depan, sangat layak dibagikan kepada pemegang saham. Sebagai catatan, BRI membayarkan 85 persen dari laba bersih tahun 2021 kepada shareholders sebagai dividen.

“Oleh karena itu, rasanya tidak berlebihan jika saya sampaikan bahwa 2 hingga 4 tahun ke depan, BRI dapat membayar dividen di atas 70 persen dari laba yang diperoleh,” ujarnya.

Sunarso mengungkapkan bahwa BBRI telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Salah satunya, perseroan telah memiliki sumber pertumbuhan baru melalui Holding Ultra Mikro (UMi).

Sementara itu, BNI mempertimbangkan untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen di kisaran 30–40 persen dari perolehan laba tahun ini. Kebijakan ini sesuai dengan kondisi permodalan dan profitabilitas perusahaan.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menyampaikan selama 2 tahun terakhir, perseroan telah melakukan aksi korporasi dan mengalami perbaikan profitabilitas.

Selain itu, kondisi permodalan perusahaan juga semakin membaik dengan modal tier 1 berada level 17 persen, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 19 persen.

“Dengan kondisi ini, kebijakan dividen kami tentunya ada pada kebijakan dividen yang progresif. Jadi, kami memang ada rencana menaikkan tingkat dividend payout, kalau tahun lalu di kisaran 25 persen, mungkin ini akan bisa kami review,” kata Novita.

Untuk tahun buku 2021, BBNI diketahui membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp2,72 triliun atau mencapai Rp146 per saham. Jumlah tersebut memiliki porsi 25 persen dari laba bersih yang dibukukan perseroan, yakni Rp10,89 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper