Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Diprediksi Naikan Suku Bunga Acuan, Ekonom Ungkap Pemicunya

Naiknya harga BBM menjadi salah satu pemicu naiknya suku bunga acuan BI.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 20 September 2022  |  16:07 WIB
BI Diprediksi Naikan Suku Bunga Acuan, Ekonom Ungkap Pemicunya
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang bakal digelar 21-22 September 2022.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada September 2022. 

Bhima menyebutkan, pemicu naiknya suku bunga BI salah satunya melihat rencana bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga secara agresif. 

Selain itu, lanjut dia, fluktuasi nilai tukar Rupiah lantaran Dolar yang semakin menguat perlu direspon dengan kenaikan suku bunga. 

“Ketiga yang paling penting adalah imbas naiknya harga BBM itu bisa memicu inflasi sampai 7 persen sampai akhir tahun. Jadi diimbangin dengan tingkat sukbung untuk menahan dana asing tidak keluar,” kata Bhima saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

Melihat beberapa pemicu tersebut, Bhima memperkirakan kemungkinan besar BI akan menaikkan 2-3 kali lagi suku bunganya hingga akhir tahun ini.

“Totalnya mungkin bisa sampai 4,5 persen suku bunganya ya di (BI7DRR) di akhir 2022,” ujarnya.

BI pada bulan sebelumnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, keputusan tersebut diambil sebagai langkah pre-emptive dan forward looking guna memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dan inflasi volatile food.

Selain itu, juga memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang semakin kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan Suku Bunga Bank Indonesia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top