Bos Indonesia Re Bocorkan Peluang Asuransi Raup Cuan dari Bursa Karbon Cs

Adopsi teknologi dan investasi besar-besaran di ekonomi hijau, menjadi peluang bagi perusahaan asuransi untuk ikut memberikan penjaminan risiko.
Logo Indonesia RE./Istimewa
Logo Indonesia RE./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonomi hijau (green economy) atau ekonomi yang berbasis energi terbarukan membawa peluang baru bagi industri asuransi. Pasalnya banyak proyek-proyek yang mendukung energi terbarukan memerlukan proteksi asuransi.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat mengatakan dalam transisi menuju ekonomi hijau (green economy) dari ekonomi cokelat (brown economy) yang berbasis fosil membutuhkan invetasi, inovasi, dan teknologi terbaru. 

“Proses transisi ini yang memerlukan invetasi dan inovasi yang besar ini lah yang memerlukan proteksi asurasi jadi dalam hal ini merupakan opportunity (peluang) industri asuransi untuk mengcover proyek-proyek transisi [energi] dunia dari brown ke green economy ini,” kata Delil kepada Bisnis, Senin (18/9/2023). 

Indonesia sendiri akan meluncurkan Bursa Karbon pada akhir September 2023 ini. Nantinya, bursa ini diharapkan meningkatkan lebih banyak investasi untuk green economy.

Namun Delil mengatakan dari perspektif risiko hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Pasalnya investasi terkait dengan transisi ke energi terbarukan merupakan risiko yang dianggap tinggi.

Dia mengatakan hal tersebut lantaran tidak tersedianya statistik dimasa lalu dan pemahaman industri asuransi terhadap risiko tersebut masih rendah. 

“Misalnya saja mesin [dengan energi terbarukan] baru tersedia prototipe, sehingga belum diketahui ketahananya dan sebagainya,” katanya. 

Tidak hanya itu, Delil juga menyebutkan premi yang dikenakan juga akan semakin tinggi. Selain itu nafsu industri asuransi untuk melindungi risiko tersebut masih rendah. 

Akibatnya tidak mudah bagi pemerintah dan industri yang berinvetasi di transisi energi ini untuk mendapatkan perlindungan asuransi. “Hal ini perlu diselesaikan saat ini,” katanya. 

Delil mengatakan Indonesia Re sebagai ketua, bersama dengan beberapa reasuransi nasional negara-negara di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) tengah membahas hal tersebut dalam Asean Reinsurance Working Committee-Asean Insurance Council (AIC).

AIC akan mengumpulkan keahlian dan kemampuan finansial untuk menghadapi tantangan yang mungkin akan terjadi terhadap industri perasuransian. 

“Kami mengumpulkan kapasitas untuk bisa mengcover proyek-proyek green energy negara asean dan untuk masalah ekspertisnya kami bekerjasama dengan global reinsurance, kami juga menunjuk Malaysia Re sebagai administrator,” katanya. 

Delil mengatakan pihaknya pun berharap banyak kerjasama berlandaskan ekonomi hijau yang terbangun pada 2024. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper