Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sempat Disindir Jokowi, OJK Ungkap Fakta Pembelian SBN oleh Bank

OJK mengungkap aktivitas pembelian obligasi dan SBN oleh bank yang sempat disindir Presiden Jokowi.
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan aktivitas bank dalam menjalankan pembelian obligasi korporasi non-bank serta surat berharga negara (SBN) pada 2023 yang sempat disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pasalnya, geliat bank dalam membeli obligasi dan SBN itu dinilai berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pembelian obligasi korporasi non-bank oleh bank pada November 2023 mencapai Rp269,46 triliun, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp231 triliun.

Sementara, nilai pembelian SBN oleh bank pada November 2023 mencapai Rp1.436,31 triliun, turun dari Rp1.458,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

"Kontribusi sektor perbankan dalam pembiayaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan memang terwujud melalui pembelian obligasi korporasi non-bank dan pembelian SBN oleh perbankan," kata Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada Selasa (9/1/2024).

Sebelumnya, Dian mengatakan di samping menyalurkan kredit, perbankan memang tetap perlu untuk melakukan penempatan asetnya pada surat-surat berharga, seperti SBN.

Namun, penempatan dana di surat berharga mesti dilakukan secara berhati-hati dan terencana baik, terutama untuk mengelola likuiditasnya, di samping dapat memberikan pendapatan bagi bank.

Bank juga memiliki strategi yang disesuaikan dengan risk appetite dan rencana bisnis-nya masing-masing, termasuk dalam penempatan portofolio atau asset liquidity management.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyinggung perbankan agar memacu kreditnya, alih-alih mempertebal portofolio di instrumen surat berharga. 

Menurut Jokowi, bank memang diperbolehkan untuk membeli sejumlah instrumen seperti SBN atau sertifikat Bank Indonesia (SBI). Portofolio itu digunakan untuk mengelola likuiditas. Namun, bank lebih baik mendorong sektor riil dengan memacu penyaluran kreditnya.

"Saya ajak perbankan. Memang harus prudent, hati-hati. Tapi tolong lebih didorong lagi kreditnya, terutama bagi UMKM. Jangan semuanya ramai-ramai membeli ke BI atau SBN," ujarnya dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2023 pada akhir tahun lalu (29/11/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper