BI Rate Naik, Impor Migas Bakal Susut

Bank Indonesia menilai penaikan suku bunga acuan akan efektif mengerem impor migas yang selama ini menjadi penyebab utama defisit transaksi berjalan.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 13 November 2013  |  22:55 WIB

 Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menilai penaikan suku bunga acuan akan efektif mengerem impor migas yang selama ini menjadi penyebab utama defisit transaksi berjalan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A.Johansyah menjelaskan penaikan BI rate yang diikuti kenaikan suku bunga kredit perbankan membuat masyarakat harus mengeluarkan dana lebih untuk mencukupi konsumsi.

Dampak lanjutannya, konsumsi BBM ditekan untuk mengompensasi pemenuhan kebutuhan lain yang pada gilirannya menurunkan impor BBM.

“Ada efek substitusi dari naiknya interest rate. Ketika kebutuhan yang satu meningkat, kebutuhan yang lain harus direm. Secara teori begitu,” katanya, Rabu (13/11/2013).

Penjelasan Difi menjawab pendapat ekonom PT Bank Mandiri Tbk Destry Damayanti yang menilai penaikan BI rate sebagai langkah yang berlebihan jika alasan yang digunakan untuk menangani current account deficit.

Pasalnya, defisit transaksi berjalan sejauh ini lebih disebabkan oleh impor migas ketimbang impor nonmigas. Kenaikan suku bunga kredit tidak akan efektif mengerem konsumsi BBM karena merupakan kebutuhan yang hingga kini relatif belum ada alternatifnya.

Destry mengkhawatirkan penaikan BI rate yang terlalu eksesif akan memukul perekonomian. Seperti diketahui, bank sentral sejak Juni telah lima kali menaikkan BI rate sejak Juni 2013. Yang terakhir, bank sentral menaikkan BI rate 25 basis poin menjadi 7,5% karena melihat perkembangan transaksi berjalan yang belum menggembirakan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
BI Rate, transaksi berjalan, impor migas

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top