EDUKASI DUIT: Kecerdasan Uang Kok Dianggap Tabu

Pembahasan Money intelligence masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Ada yang menilai urusan menjadi kaya tidak pantas dibuka, dianggap memalukan karena menonjolkan diri dan terkesan pongah.
Goenardjoadi Goenawan
Goenardjoadi Goenawan - Bisnis.com 09 April 2015  |  07:12 WIB
EDUKASI DUIT: Kecerdasan Uang Kok Dianggap Tabu
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Money intelligence atau kecerdasan uang belum pernah dibahas khalayak umum. Pembahasan Money intelligence masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Ada yang menilai urusan menjadi kaya tidak pantas dibuka, dianggap memalukan karena menonjolkan diri dan terkesan pongah.

Di lain pihak, orang setuju uang itu penting. Ada anggapan di masyarakat bahwa 90% masalah hidup berkaitan dengan masalah uang. Pepatah mengatakan, “Hal yang paling menakutkan adalah journey to the unknown (gelap, keadaan yang kita belum tahu).”” Zaman dahulu sebelum ada dokter, banyak witch atau dukun dianggap penganut setan. Masyarakat lalu ketakutan sehingga banyak witch dibunuh.

Artikel ini sedikit membuka dunia unknown. Dunia gelap yang kita belum pernah tahu,  yaitu dunia uang. Kondisi ini membuat kita takut miskin. Kita menjadi khawatir dan takut.

Banyak sekali kisah kehidupan yang berkaitan dengan uang. Ada kisah, perusahaan tempat sahabat saya bekerja collapsed atau jatuh. Dia menjadi sangat khawatir dan takut.

"Saya sangat takut, kondisi perusahaan jatuh, padahal saya masih ada cicilan rumah Rp 8 juta per bulan." Kondisi keuangan perusahaan tersebut membuat banyak karyawan nervous stress dan menjadi kalut. Dalam kondisi seperti ini yang diperlukan karyawan sejatinya bukan lagi managemen atau managerial tapi psikiater. Itu sebab, pembahasan money intelligent bukan hanya semata mata ingin materi atau ingin kaya.

Seseorang yang berjuang selama 20 tahun, jatuh bangun dan sekarang keadaan membaik serta menempati rumah milik bosnya. Bisa disebut ia meminjam aset perusahaan. Tampak luar kondisinya sudah baik-baik saja. Namun, istrinya khawatir karena mereka masih harus membiayai uang kuliah yang cukup tinggi Rp30 juta per semester plus uang kost dua orang anaknya sebesar Rp5 juta per bulan.

Oleh karena itu, sesungguhnya dia membutuhkan bantuan dana untuk menyicil apartment, karena belum memiliki rumah milik sendiri. Itu jalan yang lebih baik daripada harus terus mengeluarkan uang untuk membayar kost. Dia juga membutuhkan bantuan modal usaha.

Kondisi seperti ini mafum terjadi pada banyak orang, karena kurangnya pelajaran dan pemahaman tentang uang. Hidupnya cukup mewah, tapi uang selalu kurang.

Beberapa pepatah mengatakan, orang kaya sebenarnya hidup hemat. Sebaliknya, orang miskin, mungkin sebenarnya bisa mendapatkan uang banyak, tapi karena duit datang terus dan dia tidak memiliki manajemen yang baik, akhirnya jadi bumerang.

Orang kaya tidak membelanjakan uangnya untuk gaya hidup. Dia menggunakan uang untuk keperluan produktif. Orang miskin cenderung mencari status dengan cara membeli gaya hidup yang dipaksakan. Dia merasa jiwanya kosong dan dirasuki ingin hasrat yang tinggi serta keinginan yang memuncak untuk dipenuhi.

Orang kaya bisa memiliki rasa haus terhadap uang, terobsesi uang tapi selagi muda ia memendam hasrat kekurangan uang. Pada akhirnya dia harus mengendalikan obsesi tersebut dan mulai memahami value atau nilainya kehidupan. Sebaliknya, orang miskin mungkin cenderung terobsesi untuk memenuhi rasa hausnya terhadap hasrat dan keinginan yang membara: shopping.

Orang kaya memahami pelajaran tentang uang. Uang tidak bergantung pada pendapatan yang tinggi saja, tapi bergantung pada pemahaman bahwa yang utama dalam kehidupan ekonomi bukan pendapatan melainkan value added yang diciptakannya. Orang miskin berpendapat bahwa pendapatannya adalah hak untuk merdeka dari belenggu kekuasaan. Hidupnya mungkin ditujukan untuk bebas dari penderitaan.

Saat ini banyak orang yang pensiun di usia tua dan hidup penuh gaya, istilahnya, pensiun gaya deh. Seorang pensiunan direktur mungkin ada memperoleh uang sekaligus sebesar Rp. 2 milyar dan akibatnya mereka hidup dalam gaya hedonis atau terperangkap jebakan indulgence. Itu adalah penyakit atau penderitaan dari gaya hidup penuh kenikmatan. Berfoya-foya, makan enak, kurang bergerak, kurang latihan olah raga dan menuai penyakit. Itu sebab, MONEY INTELLIGENT bertujuan membuat orang paham pelajaran tentang uang dan perilaku uang. 

Orang Kaya

Orang Miskin

Uang dianggap sebagai jalan berkat. 

Uang sebagai pintu rejeki. Uang sebagai alat untuk memberi pertolongan pada orang lain. 

Uang sebagai pertukaran dari sikap ikhlas, dan

Memahami bagaimana caranya mengendalikan orang tanpa kekuasaan.

 

Uang seperti aladin yang punya jin.

Uang sebagai akar kemerdekaan hidup. 

Uang dianggap membebaskan hidup dari penderitaan dan tekanan kekuasaan.

 

 

Dengan demikian scope pembahasan Money Intelligence adalah mengenai paradigma atau pola pikir mengenai uang. Saya mengamati beberapa sahabat yang membaca buku kami sebelumnya, Money intelligence. Berikut beberapa dampaknya terhadap mereka:

Lebih bersemangat, lebih optimistis menatap masa depan keuangan. Tidak lagi merasa mendapat ancaman kesulitan yang berlebihan.

Penjelasan mengenaimoney intelligent membuat mereka mengerti pelajaran tentang uang, sehingga bisa membuat pikiran lebih terbuka dan lebih bersemangat berinteraksi dengan orang lain.

Menjadi melek uang dan paham pola pikir ala bisnis. Menjadi lebih peka, lebih perhatian untuk membangun hubungan dengan orang lain. 

Penulis:
Goenardjoadi Goenawan
Menulis 10 buku buku manajemen
Trainer dan Konsultan mengenai membuka paradigma baru tentang uang

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uang, edukasi, Edukasi Duit

Editor : Setyardi Widodo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top