Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PEMBIAYAAN ASAL CHINA: Kementerian BUMN Godok Skema Bank Koresponden

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah menggodok skema kredit 3 bank plat merah yang terlibat sebagai bank koresponden dalam penyaluran pembiayaan infrastruktur, dengan dana yang berasal dari China.

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah menggodok skema kredit 3 bank plat merah yang terlibat sebagai bank koresponden dalam penyaluran pembiayaan infrastruktur, dengan dana yang berasal dari China.

Staf Ahli Kementerian BUMN Sahala Lumban Gaol menuturkan dana segar yang berasal China berasal dari China Development Bank (CDB).

Dia mengungkapkan CDB yang memilih bank-bank koresponden yang akan menjadi penyalur pembiayaan. Hingga saat ini, kata Sahala, akad kredit masih dalam tahap pembicaraan.

"Akad dan pencairannya, tentu akan melalui bank-bank yang disepakati oleh BUMN dan pemberi kredit," ungkapnya di Jakarta, baru-baru ini.

Sahala mengatakan CDB juga membuka kerja sama dengan bank-bank yang dianggap mampu untuk menjadi koresponden penyalur pembiyaan. Namun terkait kesepakatan, masih tergantung dari kedua belah pihak yang akan melakukan perjanjian.

Dia menyebutkan bank-bank koresponden yang ditunjuk hingga saat ini adalah 3 bank pemerintah yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Adapun bank-bank yang berasal dari China akan menyalurkan kredit senilai US$50 miliar untuk mengembangkan proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air.

Selain CDB, bank lain asal China yang mengucurkan dana adalah ICBC senilai US$20 miliar.

Sementara itu, berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2015, kredit yang disalurkan oleh bank persero ke sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi mencapai Rp59,27 triliun atau meningkat 5,07% dari Februari tahun lalu senilai Rp56,41 triliun.

Untuk sektor konstruksi, kredit yang disalurkan meningkat 18,87% dari Rp45,76 triliun menjadi Rp54,40 triliun. Adapun, untuk sektor listrik, gas, dan air menurun sebesar 4,47% dari Rp48,65 triliun menjadi Rp46,48 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper