BANK SYARIAH: Harus Mampu Merangkul Seluruh Lapisan Masyarakat

Dubai Islamic Bank (DIB) menancapkan eksistensinya di pasar perbankan syariah di Indonesia dengan mengakuisisi 38,25% saham PT Bank Panin Dubai Syariah.
Farodlilah Muqoddam | 23 Maret 2017 02:52 WIB
Group CEO of Dubai Islamic Bank and Chairman of PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk. Adnan Chilwan (kiri), berdiskusi dengan President Director PT Bank Panin Tbk. Herwidayatmo, di sela-sela konferensi pers peresmian nama dan logo Panin Dubai Syariah Bank di Jakarta, Selasa (21/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Dubai Islamic Bank (DIB) menancapkan eksistensinya di pasar perbankan syariah di Indonesia dengan mengakuisisi 38,25% saham PT Bank Panin Dubai Syariah.

 

Bank syariah yang didirikan pada 1965 di Dubai dan telah berkembang ke delapan wilayah di dunia itu memilih PT Bank Panin Tbk sebagai mitra strategis untuk mengembangkan bisnis di Indonesia.

 

Bisnis Indonesia sempat berbincang-bincang dengan Adnan Chilwan, Group CEO Dubai Islamic Bank sekaligus Presiden Komisaris Bank Panin Dubai Syariah. Berikut petikannya:

 

Anda menilai industri perbankan syariah di Indonesia punya peluang bagus namun kurang berkembang karena salah urus.

 

Mengapa perkembangan bank syariah di Indonesia, jika dilihat dari aset, terhenti di level 5%?

 

Perkembangan perbankan syariah tidak akan berjalan baik selama kita masih terjebak pada konsep bahwa bank syariah harus selalu dilekatkan pada aspek keagamaan atau kepercayaan seseorang.

 

Kesalahan yang selalu dilakukan adalah bahwa bank syariah hanya ditargetkan untuk orang muslim.Sebab, ketika positioning bank syariah hanya semata-mata berdasarkan aspek agama, maka bank tidak akan tergerak untuk mengembangkan teknologi dan product development.

 

Prinsip syariah dan halal itu harus menjadi prasyarat yang dipenuhi, namun bukan satu-satunya nilai jual. Jika ingin meraih lebih banyak nasabah, hal yang perlu dikedepankan adalah aspek kenyaman, keamanan, keragaman produk, dan pricing.

 

Bagaimana Panin Dubai Syariah akan menempatkan diri?

 

Berdasarkan pengalaman kami di Dubai Islamic Bank, kami menyimpulkan bahwa agar bisa berkembang, bank syariah harus mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Bank syariah tidak boleh hanya fokus pada kelompok masyarakat tertentu, bergantung hanya pada niche market yakni masyarakat muslim.

 

Sebagai bank syariah, kami harus menempatkan diri sebagai bank yang inklusif, membuka kesempatan kepada setiap orang untuk merasakan pelayanan kami. Apalagi di Indonesia, masyarakat punya banyak pilihan karena ada lebih dari 100 bank. Agar bisa jadi pilihan, kami harus punya segala macam produk dan fasilitas perbankan untuk semua orang.

 

Apa nilai tambah yang diberikan oleh DIB selain modal yang dibawa ke sini?

 

Kami punya pengalaman di pasar internasional. Sejak lama, kami juga telah menjadi partner pemerintah dan juga korporasi di Indonesia yang membutuhkan pendanaan internasional. Kami juga membawa teknologi terutama di bidang ekonomi digital, struktur, produk, yang akan membawa kami melakukan penetrasi lebih dalam ke pasar Indonesia.

 

Secara pribadi, ambisi saya adalah membawa perbankan syariah menjadi role model dalam pengelolaan industri perbankan, bukan lagi menjadi salah satu alternatif.

 

Di sisi lain, dari sisi lokalitas, kami punya Bank Panin yang telah berpengalaman berbisnis di Indonesia. Ini tentu peluang besar untuk berkembang, karena ekosistem perbankan syariah telah mendapatkan dukungan dari pemerintah yang ingin menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar penting dalam ekonomi nasional.

 

Bank Panin Dubai Syariah ini akan dibawa ke arah mana?

 

Sebagai bank umum syariah full fledged, kami akan merangkum semuanya. Kami akan bergerak di retail banking, komersial, dan pada saat yang tepat akan masuk ke corporate banking.

 

Jika ingin menargetkan basis nasabah yang besar, seperti aspirasi kami, maka memang harus menyediakan produk dan layanan untuk setiap kebutuhan.

 

Bagaimana timeline-nya? Kami sudah memulainya sekarang. Kami punya struktur dan sistem yang mendukung bisnis konsumer, mikro, ritel, dan korporasi. Ke depan, kami hanya perlu memperbesar skala dan menambahkan added value.

 

Apakah ada rencana injeksi modal lagi?

 

Opsi itu selalu ada, karena kebutuhan bank terhadap modal akan terus bertambah seiring dengan perkembangan bisnis bank.

 

Sebagai perusahaan terbuka, kami selalu memasukkan rencana itu ke dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang diajukan kepada regulator, walaupun pada praktiknya bisa saja realisasinya tidak langsung seketika. Saat ini rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Panin Dubai Syariah berada pada level 19% dan itu sudah sangat mencukupi.

 

Kebutuhan pendanaan infrastruktur di Indonesia sangat tinggi, apakah akan masuk ke situ?

 

Pembiayaan infrastruktur merupakan bagian penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Harus dipastikan bahwa setiap pihak turut mendukung, termasuk perbankan syariah. Kami tentu saja akan mengambil peran. Sekarang ini, peran kami untuk mengakses pendanaan dari luar negeri.

 

Pada saatnya nanti, kami juga akan melibatkan diri untuk menyalurkan langsung pendanaan ke proyek-proyek infrastruktur terpilih. Kami punya likuiditas, juga permodalan yang kuat karena pemegang saham berkomitmen menginjeksi modal kapanpun dibutuhkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank syariah, dubai islamic bank

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top