Bank Ina Perdana Hati-hati Salurkan Kredit ke Multifinance

Bisnis.com, JAKARTA - Perbankan masih berhati-hati dalam memberikan kredit ke sektor usaha perusahaan pembiayaan atau multifinance guna mengantisipasi pemburukan kualitas kredit.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 18 Desember 2017  |  11:03 WIB
Bank Ina Perdana Hati-hati Salurkan Kredit ke Multifinance
Dirut PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Ina Perdana Tbk. memilih bersikap hati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor usaha perusahaan pembiayaan atau multifinance guna mengantisipasi pemburukan kualitas kredit lebih lanjut.

Presiden Direktur Bank Ina Perdana Edy Kuntardjo menyatakan pemberian kredit untuk industri multifinance pada tahun ini lebih selektif. Sepanjang Januari – November 2017, eksposur kredit Bank Ina ke perusahaan multifinance berkurang Rp195 miliar dibandingkan akhir tahun lalu. Hingga akhir November, jumlah kredit ke multifinance sebesar Rp295 miliar, turun 39,7% dari posisi per 31 Desember 2016 yang mencapai Rp490 miliar.

“Eksposur finance sudah kami turunkan. Penambahan ke multifinance hanya dilakukan ke perusahaan yang berkinerja baik dan pemegang sahamnya terpercaya seperti perbankan dan ATPM (agen tunggal pemilik merk),” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Adapun, bentuk pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Ina berupa pembiayaan langsung atau executing. Dengan kata lain, perusahaan multifinance menjadi debitur dan pembiayaan yang dilakukan sepenuhnya tercatat sebagai eksposur pembiayaan perusahaan multifinance.

Sektor multifinance memang sempat menjadi sebagai penyangga utama penyaluran pertumbuhan bisnis emiten bersandi BINA tersebut. Perseroan banyak melakukan kerja sama pembiayaan atau joint financing dengan puluhan perusahaan multifinance.

Walhasil, tatkala kinerja sektor industri tersebut memburuk, Bank Ina ikut terkena imbas. Pada akhir tahun lalu, NPL gross perseroan melambung tinggi ke level 3,14% dari posisi 0,21% pada tahun 2015. Begitu juga NPL net meningkat menjadi 2,29% dari 0,08%.

Total kredit bermasalah pada akhir Desember 2016 sebesar Rp43,15 miliar, meningkat Rp40,09 miliar dibandingkan akhir tahun 2015 sebesar Rp3,06 miliar.

Upaya untuk menurunkan rasio NPL terus dilakukan hingga kini. Bahkan, BINA masih memiliki kredit yang tersangkut di Arjuna Finance yang belum lama ini telah dicabut izinnya oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Seperti diketahui, kinerja industri multifinance sempat memburuk akibat lesunya penjualan kendaraan bermotor dan berimbas pada kenaikan rasio non performing loan (NPL) beberapa bank pada 2015-2016.

Sementara itu, pelaku perusahaan pembiayaan sempat meminta dukungan dari perbankan untuk memberikan dukungan pendanaan dalam bentuk pembiayaan modal kerja agar kinerja multifinance dapat terekskalasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit perbankan

Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup