Industri Keuangan Islam Diminta Tingkatkan Investasi Jangka Panjang

Bank Dunia dan Islamic Development Bank (IDB), yang berbasis di Arab Saudi, ingin meningkatkan investasi jangka panjang di industri keuangan Islam dengan memangkas ketergantungan terhadap perbankan.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 05 April 2018 17:23 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Dunia dan Islamic Development Bank (IDB), yang berbasis di Arab Saudi, ingin meningkatkan investasi jangka panjang di industri keuangan Islam dengan memangkas ketergantungan terhadap perbankan. 

Dilansir dari Reuters, Kamis (5/4/2018), dua badan multilateral itu sedang menyiapkan serangkaian rekomendasi kebijakan, seperti disebutkan dalam laporan bersama yang dirilis pekan ini. Tujuannya, mengkapitalisasi pembagian risiko dan layanan yang beragunkan aset dalam industri keuangan Islam.

Beberapa dari rekomendasi tersebut mencerminkan sejumlah permintaan yang sudah disampaikan sebelumnya untuk memfasilitasi pembiayaan yang sesuai syariah dan meningkatkan pasar sekunder untuk utang. Lebih jauh, laporan itu menyasar bank-bank Islam yang mendominasi sektor ini dan yang telah menghindar dari proyek-proyek pembiayaan jangka panjang.

"Tantangan terbesar dalam mencapai potensi keuangan Islam untuk dana investasi jangka panjang terletak di dominasi perbankan Islam," demikian disampaikan laporan tersebut.

Bank syariah memegang sebagian besar aset industri, diperkirakan mencapai 80%, sehingga meninggalkan obligasi syariah, asuransi dan reksa dana dengan bagian yang lebih kecil.

Produk perbankan Islam telah sering dikembangkan di bawah rezim peraturan yang sama seperti pemberi pinjaman konvensional, yang membuat instrumen yang dihasilkan sesuai dengan syariah tapi secara ekonomi mirip dengan bank konvensional lainnya.

Laporan itu melanjutkan hal ini berkontribusi terhadap alokasi berlebih untuk instrumen keuangan jangka pendek dan menengah, dengan ketergantungan pada transfer risiko daripada pembagian risiko.

Untuk mengatasinya, pembuat kebijakan dapat membantu mengembangkan bank investasi khusus sektor serta lembaga keuangan Islam non bank yang menggunakan pembiayaan berbasis ekuitas seperti perusahaan pembiayaan, perusahaan modal ventura, dan platform crowdfunding.

Laporan yang mengkaji perkembangan industri di 12 negara dalam sepuluh tahun terakhir ini juga menyebutkan adanya kebutuhan yang tinggi terhadap insentif pajak dan skema asuransi Islam untuk membantu memperpanjang waktu jatuh tempo. Penggunaan fintech pun dinilai dapat membantu memanfaatkan sektor sosial Islam yang tidak aktif, seperti solusi crowdfunding untuk mengumpulkan wakaf dan sumbangan lainnya.

Berdasarkan data Global Islamic Economy Report 2017/2018 yang dikeluarkan Thomson Reuters dan DinarStandard, aset pasar finansial Islam dunia tercatat sebesar US$2,2 miliar pada 2016. Angkanya diproyeksi meningkat menjadi US$3,78 miliar pada 2022. 

Sementara itu, aset perbankan Islam menyentuh US$1,59 miliar pada 2016. Nilainya diperkirakan tumbuh menjadi US$2,43 miliar pada 2022.

Tag : keuangan syariah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top