EDUKASI DUIT: Membangun High Trust, Bukan Low Trust

Belakangan ini, ada indikasi antarmasyarakat muncul gesekan. Hanya gara-gara senggolan motor sedikit di jalan, bisa jotosan. Masyarakat saling kehilangan kepercayaan.
News Writer | 24 Mei 2018 13:01 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Belakangan ini, ada indikasi antarmasyarakat muncul gesekan. Hanya gara-gara senggolan motor sedikit di jalan, bisa jotosan. Masyarakat saling kehilangan kepercayaan.

Dulu, teman sekilah satu gank yang adem, guyup, rukun, sekarang karena beda pandangan, baik pandangan politik maupun masalah relijiusitas, hubungannya menjadi berjarak.

Ini yang disebut low trust society. Anehnya, low trust society ini acapkali sering menular. Padahal, dalam berbisnis atau apapun yang kaitannya dengan keuangan, hal yang paling mendasar adalah trust. Kepercayaan.

Misalnya, Anda bertemu dengan orang baru. Sepintas Anda melihat orang itu baik, peranganinya mengesankan. Ditawari berbisnis bersama, Anda berminat.

Selepas pertemuan, Anda cari-cari informasi sosok yang baru dikenal melalui media sosial. Melihat jejering teman-temannya, eh ada yang Anda kenal. Lalu, meminta nasihat kepada teman Anda itu tentang sosok yang baru dikenal, dan jawabannya oh orangnya baik.

Dari situ, Anda tentu akan percaya membangun relasi dengan orang yang baru Anda kenal itu. Beda kalau, di media sosial sudah sering mencaci-maki, pendapat yang dilontarkan berseberangan dengan Anda, tentu keinginan untuk membangun bisnis bersama bisa dipikir ulang 1.000 kali.

Di era yang serba terbuka ini, trust bisa dibangun dari mana saja. Tapi juga bisa tiba-tiba hilang begitu saja.

Padahal, kalau kita lihat kemajuan ekonomi Indonesia sekarang ini tergantung pada daya leverage kredit.  Masyarakat harus diberi kepercayaan untuk kredit,  baik itu kartu kredit, leasing sepeda motor, pinjaman pendidikan,  kredit bank,  kredit rumah, dan lainnya.

Jumlah pertambahan uang beredar setiap bulan bisa mencapai Rp50 triliun. Bila tidak diimbangi dengan kepercayaan pasar, semakin banyak pengusaha nervous trauma kredit bank,  akhirnya terjadi semakin besar ketimpangan pendapatan Indonesia. 

Iklim pasar yang kondusif menjadikan pemerataan penetrasi kredit bank sehingga bisa mengangkat GDP per kapita Indonesia.

Perekonomian tidak lagi antara produksi dan marketing tapi kredit bank,  kredit toko,  kredit Gopay,  dll.  Dengan menurun nya tingkat kepercayaan masyarakat menyebabkan kredit terhambat. 

Pesan gofood sekarang konfirmasi telepon,  pesanan sesuai aplikasi ? Tentu saja. Mereka takut order bodong. Jadi, jangan sampai kita terjebak pada sikap low trust society.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : kredit, Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top