EDUKASI DUIT: Saatnya Akses Kredit di Bank

Persepsi lama mengatakan bahwa kredit adalah utang. Kalau utang, lawannya simpanan atau tabungan. Dengan demikian, setiap kredit kepada bank dianggap sebagai utang.
News Writer | 31 Mei 2018 10:54 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Persepsi lama mengatakan bahwa kredit adalah utang. Kalau utang, lawannya simpanan atau tabungan. Dengan demikian, setiap kredit kepada bank dianggap sebagai utang.

Padahal, menurut pendapat saya itu konsep kuno karena sejak 1970 kredit bank tidak lagi diikat dengan tabungan nasabah. Kredit komersial bank dianggap sebagai menambah jumlah suplai uang, yang disebut uang giral. Kredit bank bukan lagi disebut utang namun new money, uang baru.

Dengan kata lain, bila tidak ada kredit bank, ekonomi menyusut atau mengalami kontraksi. Apalagi saat ini jumlah kredit komersial bank atau uang giral mencapai 74% uang beredar di Indonesia.

Jumlah uang beredar M2 (keseluruhan uang tunai dan uang kredit bank) jumlahnya kira-kira Rp5.400 triliun, maka apa jadinya bila kita menghindari kredit bank M2? Hanya akan ada uang tunai sekitar Rp1.400 triliun. 

Dengan demikian, konsep baru menjadikan kredit bank sebagai new money. Uang giral. Mengapa berbeda dengan konsep lampau, kredit sebagai utang?

 

Kredit bank zaman dahulu, dianggap utang yang harus dilunasi. Sekarang, bilamana kredit bank dilunasi maka eksistensi uang giral akibat kredit tadi dihapus. 

Oleh karena itu asumsi kredit bank zaman sekarang harus menjadi arus, menggerakan ekonomi. Banyak kredit bank ditandatangani oleh tiga generasi hingga anak cucu dewasa. 

Kredit bank zaman old dianggap wilayah negara,  sekarang tidak lagi. Bank sentral seluruh dunia membentuk ikatan terhadapdolar Amerika yang dikelola oleh World Bank. Dengan demikian World Bank mengatur ekspansi kredit bank setiap negara, sehingga di antara anggota G20 tidak akan terjadi devaluasi atau krismon. 

Dulu diasumsikan kredit bank berisiko pada fluktuasi tingkat bunga bank, sekarang tidak lagi. Bank sentral sedunia mengatur keran kredit bank di setiap negara.

Tingkat bunga kredit bank makin turun. Banjir mega kredit raksasa membuat tingkat bunga menurun drastis. Saat ini bila kredit bank Anda tidak diperbaharui, bunga ya tetap di atas 12%-14% padahal sekarang tingkat bunga kredit corporate bank sebesar 7%.

Zaman old disebutkan risiko terbesar dalam bisnis adalah fluktuasi bunga bank karena faktor politik.  Tidak lagi

Bank sentral di seluruh dunia dipisah dari kekuasaan politik. Yang mengatur jumlah suplai uang adalah bank sentral bukan presiden. 

Di Indonesia Gubernur Bank Indonesia tidak ditunjuk oleh Presiden namun diangkat dan dipilih melalui  uji kepantasan dan kelayakan di DPR. Gubernur Bank Indonesia tidak bisa diganti langsung oleh presiden. Presiden hanya bisa mengajukan calon.

Bank Indonesia menjadi satu-satunya lembaga yang tidak tunduk kepada eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Gubernur BI berkolaborasi dengan World Bank. 

 

Berikutnya jumlah utang kredit bank menggelembung sejak tahun 2000—2004 pada masa SBY- JK kredit bank menyusut hingga 2010, saat terjadi mega kredit atau buble property yang meledak pada 2010.

Pada 2017 kredit bank raksasa kembali membanjiri, total uang yang beredar mencapai Rp5.400 triliun dan terus naik.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top